Penulis: Azahra Rendova
Sumbarkita – Berawal dari hobi memasak, usaha kue tradisional milik Buk Ana mampu bertahan selama lebih dari empat dekade. Dirintis sejak 1980 dari rumahnya sendiri di Jl. Alai Timur V No. 5, usaha rumahan ini hingga kini masih aktif memproduksi dan menjual berbagai kue tradisional yang diminati masyarakat.
“Awal mulanya mau buka usaha kue tradisional ini karena hobi. Suka masak, suka buat-buat kue, terus muncul juga jiwa berdagang, jadi disalurkan untuk bikin usaha biar ada penghasilan tambahan,” ujar Buk Ana kepada Sumbarkita, Sabtu (3/1/2026).
Pada masa awal merintis usaha, Buk Ana memproduksi sejumlah kue tradisional seperti lapek bugih, lamang baluo, bolu ikan, gabin fla, dan onde-onde. Seiring waktu, salah satu produk kemudian menjadi paling diminati pelanggan, yakni lapek bugih, karena cita rasanya yang dinilai cocok di lidah berbagai kalangan usia. Kue tradisional ini memiliki isian parutan kelapa yang melimpah, dengan perpaduan rasa gurih dari adonan luar dan manis dari bagian isi. Kombinasi rasa tersebut membuat lapek bugih tetap digemari dari generasi ke generasi.
“Lapek bugih itu dari dulu sampai sekarang paling dicari. Hampir setiap hari pasti ada yang pesan,” ujarnya.
Sejalan dengan meningkatnya permintaan, kapasitas produksi usaha kue Buk Ana juga terus bertambah. Saat ini, jumlah produksi mencapai sekitar 1.000 kue per hari, dan dapat meningkat sesuai jumlah pesanan yang masuk.
“Kalau sedang banyak acara atau pesanan, produksinya bisa bertambah,” ujarnya.
Dalam perjalanannya, usaha ini tidak lepas dari tantangan, terutama pada masa awal berdiri ketika masih sulit mendapatkan pelanggan. Namun, kegigihan serta konsistensi menjaga kualitas membuat usaha ini mampu bertahan dan berkembang. Kondisi tersebut juga terjadi pada masa pandemi Covid-19, ketika usaha kue Buk Ana tetap berjalan tanpa mengalami penurunan peminat yang signifikan.
Menurut Buk Ana, salah satu kunci utama bertahannya usaha kue tradisional ini adalah konsistensi dalam penggunaan bahan baku berkualitas serta menjaga hubungan baik dengan pelanggan, meskipun harga bahan baku kerap mengalami kenaikan.















