Konsistensi tersebut tercermin dari proses produksi yang masih menggunakan resep tradisional, meskipun peralatan yang digunakan kini sudah lebih modern dan efisien. Proses produksi dilakukan di rumah Buk Ana dengan melibatkan anggota keluarga serta lima orang karyawan yang merupakan warga sekitar. Dengan sistem tersebut, seluruh proses produksi dapat terpantau dengan baik sehingga cita rasa kue tetap terjaga.
Dalam hal pemasaran, kue Buk Ana dipasarkan ke berbagai lokasi, mulai dari Hotel Grand Zuri, kantor pemerintahan seperti kantor gubernur, dinas sosial, dan dinas kominfo, hingga sejumlah swalayan dan pusat oleh-oleh. Selain itu, pemesanan juga dapat dilakukan secara langsung ke rumah maupun secara online melalui GoFood dan Shopee Food.
Kue-kue tradisional tersebut dijual dengan kisaran harga Rp2.500 hingga Rp3.000 per buah, tergantung jenis kue. Saat ini, usaha kue Buk Ana berada dalam kondisi stabil dengan pesanan yang datang setiap hari. Lapek bugih masih menjadi produk yang paling diminati pembeli.
Ke depan, Buk Ana berharap usaha kue tradisional yang dirintisnya dapat terus bertahan dan diteruskan oleh generasi berikutnya dengan pengelolaan yang lebih profesional.
“Harapannya bisa diteruskan anak cucu dan tetap dikenal generasi muda tanpa meninggalkan cita rasa tradisional,” tutupnya.















