Ia menyebut bantuan yang diterima keluarga sejak kecelakaan masih terbatas, yakni donor dua kantong darah pada hari kejadian, satu unit kipas angin, serta uang Rp250 ribu untuk biaya ambulans dari RSUD Pasaman Barat menuju RSUP Dr. M. Djamil Padang.
Biaya perawatan rumah sakit pada awalnya ditanggung melalui santunan Jasa Raharja sebesar Rp20 juta, kemudian dilanjutkan menggunakan BPJS Kesehatan. Meski demikian, keluarga masih harus menanggung berbagai kebutuhan harian selama mendampingi korban menjalani perawatan.
“Sehari bisa Rp300 ribuan, untuk pampers, pralak, obat di luar yang dikasih rumah sakit, terapi, dan biaya keluarga di sini. Bisa jutaan sebulan ini,” ujarnya.
Kondisi tersebut, kata Anesfa, membuat perekonomian keluarga terganggu. Selama ini, Nuardi merupakan tulang punggung keluarga yang menghidupi istri dan anak-anaknya melalui usaha bengkel las.
“Gara-gara bapak dirawat juga, jadinya toko tutup. Adik-adik tiga orang sekolah, sedangkan saya dan ibu jaga ayah di sini. Tidak ada pendapatan. Bertahan di sini cuma dibantu keluarga,” katanya.
Ia menambahkan, meskipun nantinya ayahnya diperbolehkan pulang dari rumah sakit, proses pemulihan diperkirakan masih berlangsung lama sehingga belum tentu dapat kembali bekerja.
“Ayah biasanya buka bengkel las. Sekarang tutup total. Kalaupun keluar rumah sakit, belum tentu juga ayah bisa kerja. Pemulihannya bakal lama, sebab kondisi tubuhnya berat karena bolak-balik ICU. Ini saja sudah tiga kali fase kritis,” ujarnya.
Sementara itu, menantu korban, Hafizh Marzuq (29), menjelaskan kecelakaan terjadi pada Selasa (9/6/2026) sekitar pukul 08.46 WIB di Jalan Jambak Jalur I Sariak, Nagari Koto Baru, Kecamatan Luhak Nan Duo, Kabupaten Pasaman Barat. Saat itu, korban baru pulang membeli bahan-bahan untuk warung istrinya dan membawa tiga karung beras.















