“Kami siapkan ambulans dan tenaga medis semampu kami. Yang penting anak ini bisa pulang dengan aman,” katanya.
Persiapan teknis pemulangan ditangani Sekretaris Gempar Kepri, Nasrul Geboy, bersama tim. Rencananya, Selasa (30/12) siang, mereka akan memberangkat Beni menuju Tanah Datar melalui jalur darat dan laut, melewati Pelabuhan Punggur dan Buton.
Bagi Yuliardi, perjalanan panjang itu penuh risiko. Namun, ia memilih untuk menerima keadaan dengan pasrah.
“Saya sudah ikhlaskan. Apa pun yang terjadi di perjalanan, saya tidak akan menuntut siapa pun. Ini sudah jalan hidup kami,” ucapnya.
Ia berterima kasih kepada semua pihak yang telah membantu, terutama sesama perantau meski tak memiliki hubungan darah dengannya.
“Kalau tidak ada PKDP dan Gempar, saya tidak tahu harus bagaimana. Mereka seperti keluarga kami di rantau,” katanya.
Kisah Beni Afriadi, tak ada tuntutan, tak ada amarah. Yang ada hanya harapan bahwa seorang anak bisa kembali ke kampung halaman, dikelilingi keluarga, meski dalam kondisi tak berdaya. Solidaritas sesama manusia masih menjadi penopang terakhir bagi mereka yang sakit dan jauh dari rumah.
Bagi masyarakat yang ingin membantu, keluarga membuka pintu melalui Yuliardi yang saat ini berada di Rumah Sakit Mutiara Aini atau melalui PKDP Batu Aji dan Gempar Kepri.













