Kabarminang — Polisi menangkap tujuh tersangka pengeroyok sopir travel Pekanbaru di Limapuluh Kota, pada Sabtu (4/4/2026) pukul 17.00 WIB.
“Kami memanggil mereka untuk datang ke polsek sebagai tersangka. Mereka memilih datang daripada ditangkap di rumah masing-masing. Saat mereka tiba di polsek, kami langsung menangkap mereka. Kini mereka ditahan di rutan Polres 50 Kota,” ucap kepala Polsek Pangkalan, AKP Hendra.
Hendra menyebut bahwa ketujuh orang itu berinisial MARS (23 tahun), FAM (23 tahun), GSN (22 tahun), RPP (23 tahun), MASL (19 tahun), N (24 tahun), dan RMH (19 tahun). Ia mengatakan bahwa ketujuhnya merupakan warga Riau dengan latar belakang, dari mahasiswa hingga penganggur.
Hendra menyampaikan bahwa pihaknya menangkap ketujuh tersangka berdasarkan laporan korban, Ferli Ramadhani (29 tahun), warga Pulau Tinggi, Kecamatan Kampar, Kabupaten Kampar, Riau, pada Selasa (31/3/2026).
Pihaknya menjerat ketujuh tersangka dengan Pasal 262 ayat 1 Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2023 tentang KUHP. Berdasarkan pasal itu, katanya, para tersangka terancam hukuman paling lama lima tahun penjara.
Hendra menceritakan bahwa masalah sopir travel dengan para pengeroyok itu bermula pada Selasa (31/3/2026) sekitar pukul 2.30 WIB di kawasan Kelok 17, Nagari Koto Alam, Kecamatan Pangkalan. Ia menceritakan bahwa awalnya sebuah mobil travel merek Toyota Innova, yang dikemudikan oleh Alfin, berupaya mendahului Toyota Kijang LGX, yang dikemudikan oleh ayah dari pria bernama Alif. Kijang LGX beriringan dengan Daihatsu Gran Max. Karena terkejut, sopir Kijang LGX tak sengaja menginjak pedal gas sehingga mobilnya maju dan mengakibatkan sopir travel tidak berpeluang menyalip Kijang tersebut.
“Sopir Kijang LGX terkejut karena memang dia punya riwayat penyakit jantung. Dia baru keluar dari rumah sakit dan dipasang ring di jantungnya,” tutur Hendra.
Karena tak jadi menyalip, kata Hendra, sopir travel tidak senang terhadap sopir Kijang LGX. Sopir travel kembali mencoba menyalip hingga berhasil, lalu menghentikan Kijang LGX di pinggir jalan. Kedua pihak lalu cekcok mulut.
Hendra mengatakan bahwa cekcok kedua pihak itu berlanjut saat mereka bertemu di kawasan Sibunbun, masih di Pangkalan. Saat itu sepuluh mobil travel menghentikan Kijang LGX tersebut.
“Mereka adu mulut hingga berujung pada saling dorong. Akibatnya, ada seorang dari rombongan Kijang LGX yang jatuh dan perutnya terluka kena kayu. Situasi semakin memanas ketika salah seorang sopir travel bernama Ferli turun dari mobil dan melakukan intimidasi. Sementara itu, dari pihak Kijang LGX terdapat penumpang yang sempat mengambil besi dari dalam mobil dengan maksud membubarkan kerumunan,” ucap Hendra.
Saat tiba di Rumah Makan Payung Sekaki, kata Hendra, rombongan Kijang LGX melihat Ferli, sopir travel Daihatsu Luxio, seorang diri, tanpa ada teman sopir travel lain. Ia menyebut bahwa sekitar sembilan orang dari rombongan Kijang LGX tersebut kemudian turun dan mengeroyok Ferl. Akibatnya, katanya, korban terluka di wajah dan tubuhnya.
Setelah melakukan pengeroyokan, kata Hendra, orang-orang yang berada di dalam mobil Kijang LGX dan Gran Max kabur ke arah pintu tol Pekanbaru di Kabupaten Kampar, Riau. Karena takut, mereka menabrak portal tol sehingga membuat portal tersebut rusak. Akibatnya, mereka dibawa oleh angota Polsek Tambang.
“Kepada anggota Polsek Tambang, mereka mengaku takut dikejar oleh sopir travel. Setelah menyelesaikan masalah itu di polsek, mereka pergi,” ucap Hendra.
Sementara itu, sopir travel Daihatsu Luxio kembali ke Pangkalan untuk melaporkan pengeroyokan tersebut ke polsek setempat. Hendra menyebut bahwa sopir itu melapor pukul 5.30 WIB. Setelah melapor, katanya, anggota polsek membawanya untuk visum di puskesmas.
“Korban luka memar di wajah. Dia kemudian pergi visum ke RSUD di Payakumbuh,” ucap Hendra.
Setelah mengetahui sopir travel melapor ke Polsek Pangkalan, kata Hendra, Alif dan rombongan Kijang LGX juga kembali ke Pangkalan untuk melapor ke polsek. Ia menyebut bahwa para pengeroyok melapor pukul 13.00 WIB.
“Kedua laporan sedang kami proses,” ujar Hendra.
Hendra menginformasikan bahwa pihaknya sudah mempertemukan kedua pihak Polsek Pangkalan pada Rabu (1/04/2026) sekitar pukul 19.00 WIB untuk dimediasi. Namun, katanya, mediasi belum mencapai kesepakatan karena keluarga sopir travel yang dikeroyok menyatakan bahwa mereka masih menunggu kepastian biaya pengobatan korban di rumah sakit.
Soal sopir travel yang dikeroyok itu, yang disebut di media sosial sebagai orang Pasaman atau Pasaman Barat, ia mengatakan bahwa ia tidak tahu apakah sopir itu berasal dari Sumbar. Ia menyebut bahwa korban merupakan orang Kampar.
Sebelumnya, beredar video seorang pria yang dinarasikan sebagai sopir travel dikeroyok sejumlah orang di Kecamatan Pangkalan, Limapuluh Kota, pada Rabu (1/4/2026) dini hari.















