Kabarminang — Harga petai di tingkat petani di Kecamatan Sungai Geringging dan Aur Malintang, Kabupaten Padang Pariaman, mencapai Rp50.000 per kilogram pada Senin (13/4/2026).
Harga tersebut dinilai lebih tinggi dibandingkan periode sebelumnya. Kendati demikian, kenaikan harga itu belum sepenuhnya menguntungkan petani karena hasil panen mereka terus tergerus akibat serangan kera liar.
“Sekarang harga memang lagi bagus, bisa mencapai Rp50.000 per kilogram. Tapi petai kami banyak yang hilang karena kera dan beruk liar,” ujar Rudi (45), petani petai asal Sungai Geringging, kepada Sumbarkita.
Ia mengatakan, saat buah mulai tua, kawanan kera turun dari perbukitan dan hutan ke kebun warga, lalu menghabiskan buah petai dalam waktu singkat.
“Kalau sudah datang, bukan cuma dimakan. Banyak juga buah yang dipatahkan sehingga buah jadi rusak. Kadang satu pohon petai itu tidak lagi dapat dijual,” tuturnya.
Ia melanjutkan, serangan kera di wilayahnya menimbulkan kerugian hingga hampir separuh hasil panen.
“Kalau setengah buah hilang, harga setinggi apa pun tetap terasa kurang. Karena yang dijual memang sudah berkurang. Kami hanya ingin hasil kebun bisa kami nikmati penuh. Harga sudah bagus, tetapi habis duluan karena kera,” ujarnya.
Kondisi serupa juga dialami petani di kawasan Aur Malintang, Zul. Ia menyebut kera hampir setiap hari datang ke kebunnya.
“Paling sering datang itu pagi dan menjelang sore, sehingga kami terpaksa berjaga di kebun. Kalau tidak dijaga, bisa habis satu batang dalam sehari,” tuturnya.
Ia melanjutkan, untuk menakuti kawanan kera, dirinya bersama petani lain menggunakan senapan angin dengan melepaskan tembakan ke udara atau ke arah aman agar hewan liar tersebut menjauh dari kebun.
“Kami bukan mau membunuh, kami hanya mengusir. Kalau tidak ditembak, mereka tidak takut,” ujarnya.















