Kabarminang – Kelangkaan bahan bakar minyak (BBM) jenis solar kembali terjadi di Kota Padang dalam dua pekan terakhir, ditandai dengan antrean panjang kendaraan di sejumlah stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU), khususnya di SPBU Pisang dan SPBU Khatib.
Pantauan Sumbarkita, di SPBU Pisang yang berada di kawasan Jalan Bypass, Kecamatan Pauh, antrean didominasi kendaraan truk. Sementara di SPBU Khatib di kawasan Ulak Karang, Kecamatan Padang Utara, antrean diisi berbagai jenis kendaraan berbahan bakar solar, mulai dari truk, minibus hingga bus.
Kondisi tersebut diduga berkaitan dengan meningkatnya konsumsi solar di Sumatera Barat (Sumbar), yang salah satunya dipicu aktivitas Pertambangan Emas Tanpa Izin (PETI) di sejumlah daerah.
Kepala Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Sumbar, Helmi Heriyanto, mengatakan penggunaan solar dalam jumlah besar di lokasi PETI menjadi salah satu pemicu terjadinya antrean panjang di sejumlah stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU).
“PETI tidak hanya berdampak pada kerusakan lingkungan dan korban jiwa, tetapi juga merembet ke sektor lain, termasuk distribusi energi. Salah satunya itu BBM solar di Sumbar jadi sulit,” ujarnya, Kamis (21/5/2026).
Helmi menyebut, tingginya kebutuhan solar di kawasan tambang ilegal menjadi indikator adanya tekanan terhadap pasokan BBM di daerah. Ia mencontohkan hasil kunjungan ke salah satu titik PETI di Batu Gando, Kabupaten Sijunjung, yang disebut membutuhkan sekitar 1.000 liter solar per hari.
“Ketika kami kunjungan ke Batu Gando Kabupaten Sijunjung, itu 1.000 liter per hari solar yang dibutuhkan di kawasan itu saja. Itu satu titik baru,” katanya.
Ia menegaskan angka tersebut baru berasal dari satu lokasi, sementara aktivitas PETI tersebar di berbagai wilayah Sumbar. Kondisi ini dinilai turut meningkatkan permintaan solar di luar kebutuhan normal masyarakat.
“Sekarang beberapa SPBU di Kota Padang sudah antre di mana-mana, bahkan pengendara harus berjam-jam menunggu,” ujarnya.
Berdasarkan data Dinas ESDM Sumbar, terdapat sekitar 200 hingga 300 titik PETI yang tersebar di sejumlah daerah, terutama di Solok Selatan, Solok, Dharmasraya, Sijunjung, Pasaman, dan Pasaman Barat, serta beberapa wilayah lainnya.
















