Dikembangkan Jadi Olahraga dan Unit Usaha
Selain peternakan, Kanzul Ulum terus mengembangkan olahraga memanah berkuda. Santri dilatih mengendalikan kuda sekaligus menggunakan busur dan anak panah.
Pada April 2026, empat atlet berkuda memanah di lingkungan Kanzul Ulum menjalani latihan intensif. Mereka mendapat bimbingan dari atlet nasional Azral Mardin untuk meningkatkan kemampuan dan mempersiapkan diri menghadapi kompetisi.
Hizbul Watan mengatakan kegiatan tersebut menjadi salah satu cara pesantren memberikan keterampilan tambahan kepada santri di luar pendidikan agama.
Program berkuda juga dikembangkan menjadi unit usaha. Pada 2025, santri membawa satu hingga dua ekor kuda ke Pantai Pasia Jambak setiap akhir pekan untuk memberikan jasa wisata berkuda kepada masyarakat.
Saat itu, tarif berkuda ditetapkan Rp40 ribu per orang, sementara tarif berfoto bersama kuda Rp10 ribu. Jika ramai, kegiatan tersebut dapat menghasilkan pendapatan sekitar Rp500 ribu dalam sehari.
Pesantren juga pernah membuka pelatihan privat berkuda bagi masyarakat umum dengan tarif Rp2 juta untuk 10 kali pertemuan.
Selain jasa wisata dan pelatihan, pengembangan peternakan juga menjadi bagian dari unit usaha pesantren. Anak kuda yang tidak dipertahankan dapat dijual, kemudian hasil penjualannya digunakan untuk membeli kuda yang lebih besar.
Pada 2025, jumlah kuda yang dimiliki Kanzul Ulum tercatat sembilan ekor. Kini jumlah tersebut telah bertambah menjadi 13 ekor.
Pesantren juga mengembangkan kuda hasil persilangan kuda lokal dengan kuda Eropa atau jenis crossbreed. Pada 2025, anak kuda berusia sekitar enam bulan disebut memiliki nilai jual hingga Rp35 juta, sedangkan kuda dewasa dapat mencapai Rp65 juta.
Hasil pengembangan unit usaha tersebut turut dimanfaatkan untuk pembangunan dan pengembangan pesantren.
Kanzul Ulum sendiri sebelumnya berkembang dari kondisi sederhana. Bangunan awal pesantren merupakan bekas kandang kambing yang kemudian direhabilitasi menjadi kamar santri pada 2014.
Menurut Hizbul Watan, kegiatan berkuda memberikan pengalaman langsung kepada santri. Mereka tidak hanya memperoleh pengetahuan secara teori, tetapi juga belajar merawat hewan, menjaga kebersihan, serta menjalankan aktivitas yang membutuhkan kedisiplinan.
Program tersebut berjalan berdampingan dengan pendidikan agama di Kanzul Ulum. Pesantren memiliki program kelas alim dan tahfiz. Kelas alim mempelajari berbagai kitab, sementara kelas tahfiz diarahkan untuk menghafal Al-Qur’an.
Dari satu ekor kuda pada 2016, Kanzul Ulum kini mengembangkan program berkuda menjadi kegiatan pembelajaran keterampilan, olahraga memanah berkuda, peternakan, pembiakan, hingga unit usaha pesantren.
Kehadiran Kamang Chrome menjadi bagian terbaru dari pengembangan tersebut. Selain mendukung aktivitas berkuda santri, kuda yang pernah menjadi juara pacuan tingkat nasional itu kini berperan dalam program pembiakan.
Dua kuda betina yang telah dikawinkan dengan Kamang Chrome saat ini sedang bunting dan diperkirakan melahirkan pada Desember 2026. Jika berjalan sesuai perkiraan, kelahiran tersebut akan menambah generasi baru kuda hasil pembiakan di Pondok Pesantren Kanzul Ulum.















