Kuda jantan asal Bukittinggi tersebut tidak hanya dimanfaatkan untuk kegiatan berkuda, tetapi juga menjadi bagian dari program pembiakan di pesantren.
“Kamang Chrome itu kita manfaatkan juga untuk pembiakan. Sekarang sudah berhasil dikawinkan dengan dua ekor kuda betina yang ada di pesantren,” kata Hizbul Watan.
Saat ini, kedua kuda betina tersebut sedang bunting dan diperkirakan melahirkan pada Desember 2026.
“Insyaallah kalau tidak ada kendala, dua-duanya akan melahirkan pada Desember,” ujarnya.
Hizbul Watan mengatakan keberadaan Kamang Chrome membuat proses pembiakan dapat dilakukan lebih mandiri. Sebelumnya, untuk proses perkawinan kuda, pihak pesantren harus membawa kuda ke Bukittinggi.
Kamang Chrome sendiri memiliki rekam jejak di arena pacuan kuda nasional. Kuda tersebut pernah meraih posisi kedua pada Sawahlunto Derby 2016.
Setahun kemudian, Kamang Chrome menjadi juara Indonesia Derby pada Kejuaraan Nasional Pacuan Kuda ke-51 Seri I di Lapangan Pacuan Tegal Waton, Salatiga, Jawa Tengah, untuk jarak 2.000 meter.
Pada 2018, Kamang Chrome kembali menjadi juara pertama kelas Boko Bukittinggi Terbuka dan Tradisional jarak 1.800 meter. Kemudian pada 2019, kuda tersebut menjuarai kelas A Terbuka jarak 2.200 meter pada Kejurnas Pacuan Kuda ke-53 Seri I di Tegal Waton.
Kini, kuda yang memiliki prestasi di tingkat nasional tersebut dimanfaatkan untuk mendukung pembiakan kuda di Kanzul Ulum.















