Bagi Iwan, Sumpur Kudus bukan sekadar tempat tinggal, melainkan kawasan yang menyimpan kekayaan flora dan habitat alami yang perlu dijaga bersama. Ia bahkan menyebut daerah tersebut sebagai Kampung Rafflesia hasseltii untuk memperkenalkan potensi alam setempat kepada masyarakat luas.
“Hutannya masih sangat asri dan terjaga, makanya Sumpur Kudus ini saya beri nama Kampung Rafflesia hasseltii,” tutur Iwan.
Penemuan titik pertumbuhan baru di Jorong Calau juga dilatarbelakangi kekhawatiran Iwan terhadap ancaman perubahan fungsi lahan. Menurutnya, aktivitas manusia yang tidak memperhatikan kelestarian lingkungan berpotensi merusak habitat alami bunga langka tersebut.
“Saya mendatangi lokasi itu karena menduga ada potensi pertumbuhan baru yang harus segera didata dan dilindungi,” ucap Iwan.
Di tengah upaya tersebut, keterbatasan dukungan belum menyurutkan langkahnya. Iwan mengaku tetap menggunakan dana pribadi untuk membiayai perjalanan dan survei. Baginya, menjaga kelestarian alam Sumpur Kudus merupakan tanggung jawab yang perlu dijalankan, meskipun membutuhkan pengorbanan waktu dan biaya.
“Semua biaya perjalanan dan survei saya pakai uang pribadi demi kecintaan saya pada kelestarian alam Sumpur Kudus,” ujarnya.
Ia berharap upaya konservasi yang dilakukan masyarakat setempat mendapat perhatian pemerintah daerah maupun pemerintah pusat. Menurutnya, dukungan pemangku kebijakan diperlukan agar perlindungan terhadap habitat Rafflesia hasseltii dapat dilakukan secara lebih terarah dan berkelanjutan.
“Harapan saya, kepedulian saya ini hendaknya dilirik pemerintah agar ada langkah nyata untuk melindungi kawasan ini,” kata Iwan.


















