Warga Tak Hanya Cemas, Tapi Membutuhkan Kepastian
Kekhawatiran terhadap ancaman tsunami juga dirasakan warga. Eki Rafki, warga Kota Pariaman, mengatakan ancaman bencana tidak hanya menimbulkan persoalan fisik, tetapi juga kecemasan bagi masyarakat yang tinggal di kawasan pesisir.
“Sebetulnya saat ini kita sudah berada pada fase dampak psikologis bencana, yaitu rasa takut dan cemas,” kata Eki.
Ia berharap pemerintah daerah tidak hanya mengandalkan kesiapsiagaan masyarakat, tetapi juga memperkuat infrastruktur dan berkoordinasi dengan pemerintah di tingkat provinsi maupun pusat untuk mendapatkan dukungan anggaran mitigasi.
“Pemerintah kota sangat perlu menjalin komunikasi aktif dengan pemerintah pusat untuk menjemput alokasi dana mitigasi,” ujarnya.
Berhadapan dengan Ancaman Megathrust Mentawai
Kekhawatiran tersebut tidak terlepas dari posisi geografis Kota Pariaman yang berada di pesisir barat Sumatera dan berhadapan dengan kawasan sumber gempa di sekitar Mentawai.
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) Kota Pariaman, jumlah penduduk Kota Pariaman mencapai lebih dari 100 ribu jiwa dan tersebar di empat kecamatan.
Tiga kecamatan berada di kawasan yang memiliki garis pantai, yakni Pariaman Tengah, Pariaman Selatan dan Pariaman Utara. Sementara itu, dokumen Kajian Risiko Bencana (KRB) BPBD menyebut Kota Pariaman memiliki kerentanan terhadap sejumlah ancaman bencana, termasuk gempa bumi dan tsunami, selain abrasi serta banjir pesisir.
Dengan kondisi tersebut, jalur evakuasi menjadi salah satu bagian penting dalam kesiapsiagaan. Sebab, ketika gempa kuat terjadi dan peringatan tsunami dikeluarkan, warga pesisir tidak hanya membutuhkan informasi, tetapi juga membutuhkan jalur yang memungkinkan mereka bergerak cepat menuju lokasi aman.
















