Petani berharap ada kestabilan harga yang berpihak kepada mereka. Saat harga anjlok mereka merugi karena biaya produksi seperti pupuk, pestisida, dan ongkos tenaga kerja terus meningkat. Namun, ketika harga naik di pasar, keuntungan lebih banyak dirasakan pedagang perantara.
Fluktuasi harga cabai itu disebut-sebut dipengaruhi oleh pasokan dan cuaca. Dalam beberapa pekan terakhir, curah hujan cukup tinggi sehingga memengaruhi hasil panen. Produksi yang tidak maksimal berdampak pada distribusi ke pasar tradisional.
Pedagang pun mengaku berada di posisi serba sulit. Jika harga dinaikkan terlalu tinggi, pembeli bisa berkurang. Namun, jika harga dipertahankan, margin keuntungan semakin tipis.
“Kami ikut harga dari agen. Kalau harga di agen naik, mau tidak mau kami ikut menaikkan,” ujar pedagang lainnya di Pasar Sungai Geringging.
Kondisi itu kembali menunjukkan betapa sensitifnya komoditas cabai terhadap perubahan pasokan dan distribusi. Warga berharap pemerintah daerah dapat memantau stabilitas harga kebutuhan pokok, sementara petani menginginkan perlindungan harga agar hasil panen mereka tidak terus berada dalam ketidakpastian.
















