Kabarminang – Nilai tukar rupiah kembali melemah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan Rabu (17/6/2026). Berdasarkan data Google Finance hingga sore hari, kurs USD/IDR tercatat berada di level Rp17.763 per dolar AS.
Posisi tersebut lebih tinggi dibandingkan penutupan perdagangan sebelumnya yang berada di level Rp17.737,85 per dolar AS. Dengan demikian, dolar AS menguat sekitar Rp25,15 atau 0,14 persen terhadap rupiah.
Pergerakan tersebut mengakhiri tren penguatan rupiah yang terjadi dalam beberapa hari terakhir. Sebelumnya, mata uang Garuda sempat bergerak menguat setelah dolar AS turun dari level yang mendekati Rp17.800 per dolar AS.
Berdasarkan grafik perdagangan harian, pergerakan kurs berlangsung cukup fluktuatif. Pada awal sesi, dolar AS sempat bergerak di atas level Rp17.800 sebelum mengalami koreksi hingga mendekati Rp17.720 per dolar AS.
Namun tekanan terhadap rupiah kembali muncul menjelang siang hingga sore hari. Dolar AS berangsur menguat dan bertahan di kisaran Rp17.760 hingga Rp17.780 per dolar AS.
Meski pelemahan rupiah kali ini relatif terbatas, pergerakan nilai tukar masih menjadi perhatian pelaku pasar. Kurs rupiah sangat dipengaruhi oleh berbagai faktor eksternal, termasuk kebijakan suku bunga bank sentral Amerika Serikat (The Fed), perkembangan ekonomi global, serta dinamika geopolitik internasional.
Selain itu, pergerakan harga komoditas dunia dan arus modal asing ke negara-negara berkembang juga menjadi faktor yang memengaruhi arah nilai tukar rupiah.
Bagi pelaku usaha yang bergantung pada impor maupun masyarakat yang memiliki simpanan dalam mata uang asing, perubahan kurs dapat memengaruhi nilai transaksi dan biaya yang harus dikeluarkan.
Hingga pembaruan terakhir pada Rabu sore, kurs dolar AS terhadap rupiah tercatat berada di level Rp17.763 per dolar AS, atau lebih tinggi dibandingkan posisi penutupan perdagangan sebelumnya.
















