Korban menyampaikan, dalam situasi perdebatan tersebut, ia melihat satu pelaku lain yang membawa sepeda motor terpisah sudah mendahului lokasi dan menunggu dari depan lokasi pemberhentian. Korban memperkirakan total pelaku di lokasi sebenarnya berjumlah empat orang yang mengendarai dua unit sepeda motor.
Korban meyakini dua pelaku lainnya bertugas berpura-pura menjadi pembela dirinya apabila situasi operandi yang dijalankan rekan mereka mulai tidak terkendali. Korban mengatakan, karena emosi dituduh kendaraannya bermasalah, ia sempat membuka jok sepeda motor untuk memperlihatkan nomor rangka kepada pelaku secara langsung.
”Namun, saya marah dan melarang keras ketika pelaku mencoba memfoto nomor rangka tersebut karena khawatir datanya disalahgunakan,” tegasnya.
Korban menjelaskan, saat situasi mulai memanas, warga setempat yang berada di sekitar lokasi mulai mendatangi dan mengerumuni mereka.
Korban menyebutkan, melihat kedatangan warga sekitar, dua pelaku yang awalnya berpura-pura menjadi penengah langsung berpura-pura meredakan suasana agar mereka semua bisa melarikan diri dari lokasi.
Korban menegaskan bahwa kedua orang yang menghentikannya tersebut dipastikan bukan anggota kepolisian, terlebih tidak ada petugas polisi di lokasi kejadian karena pos polisi terdekat berada cukup jauh.
Korban menyampaikan bahwa ia telah mengonsultasikan kejadian ini kepada kakaknya yang merupakan anggota kepolisian, dan membagikan informasi ini agar masyarakat Kota Solok lebih waspada terhadap modus operandi perampasan kendaraan di jalan raya.



















