Kabarminang – Seorang ibu berusia sekitar 80 tahun di Kabupaten Pasaman Barat, Sumatera Barat, masih menantikan kepulangan anaknya yang telah hampir 13 tahun tak diketahui keberadaannya. Dalam kondisi sakit dan lebih banyak terbaring di tempat tidur, perempuan lansia itu disebut terus memanggil nama anaknya, Afrizal, yang akrab disapa Sauh.
Anak yang ditunggu tersebut terakhir kali diketahui pergi dari rumah pada 2013. Sejak saat itu, keluarga tidak lagi mendapat kabar mengenai keberadaan Afrizal.
Kini, Zulia Afriani (35), putri Afrizal dari istri pertamanya, berupaya mencari keberadaan sang ayah. Warga Simpang Empat, Pasaman Barat, itu berharap bisa menemukan ayahnya, terlebih kondisi neneknya yang terus melemah membuat keluarga khawatir waktu untuk mempertemukan keduanya semakin terbatas.
Kepada Sumbarkita, Selasa (13/10/2026), Zulia menceritakan perjalanan panjang hubungannya dengan sang ayah. Ia terpisah dari Afrizal sejak masih kecil, sempat kembali bertemu dan berkomunikasi, hingga akhirnya kehilangan kabar sejak 2013.
Zulia mengaku tidak mengingat secara pasti kapan kedua orang tuanya berpisah karena saat itu usianya masih sangat kecil. Berdasarkan cerita ibunya, mereka dahulu tinggal di Jorong Selawat Timur, Nagari Air Bangis, Pasaman Barat. Setelah terjadi persoalan rumah tangga, ibunya membawa Zulia pulang ke rumah orang tuanya di Padang Panjang.
“Saya ditinggalkan saat masih kecil dan saya sudah tidak ingat kapan kejadiannya,” kata Zulia.
Menurut cerita yang diterimanya, perpisahan itu terjadi setelah sang ibu mengetahui Afrizal menjalin hubungan dengan perempuan lain yang berstatus janda di sekitar tempat tinggal mereka. Dalam keadaan kecewa, ibunya memilih meninggalkan rumah dan melanjutkan kehidupan bersama orang tuanya.
Sejak saat itu, ibu Zulia berjuang memenuhi kebutuhan hidup sekaligus membiayai pendidikan putrinya dengan bantuan kakek dan nenek dari pihak ibu. Selama bertahun-tahun, Zulia mengaku tidak pernah bertemu maupun mendapat kabar dari ayahnya.



















