“Jangan hanya menangkap pekerja lapangan, aktor intelektual dan oknum pelindung pabrik narkoba di Padang harus dibuka ke publik,” tegas orator.
Isu tambang ilegal turut menjadi sorotan dalam aksi. Massa menilai praktik pertambangan ilegal telah menimbulkan kerusakan lingkungan dan memakan korban jiwa. Mereka mendesak pembentukan tim khusus untuk menindak pelaku serta mengusut dugaan keterlibatan pihak lain yang dianggap membiarkan praktik tersebut berlangsung.
“Aktor intelektual serta oknum aparat yang membentengi atau membiarkan tambang ilegal ini wajib diseret ke ranah hukum,” cetusnya.
Situasi aksi sempat memanas ketika massa membakar ban bekas di tengah jalan. Namun, aparat kepolisian segera memadamkan api menggunakan alat pemadam api ringan (APAR).
Massa juga membentangkan sejumlah spanduk dan mural berisi kritik di sepanjang jalan depan markas kepolisian sebagai bentuk penyampaian aspirasi secara visual.
Aksi tersebut mendapat dukungan dari sejumlah organisasi kemahasiswaan, di antaranya GMNI, HMI, PMII, dan KAMMI yang terlihat mengibarkan bendera organisasi masing-masing di lokasi aksi.
Sementara itu, aparat kepolisian melakukan pengamanan ketat dengan menempatkan personel di depan gerbang utama Polda Sumbar dan membentuk barikade guna mengantisipasi gangguan keamanan.
Di akhir aksi, massa menyatakan akan kembali menggelar demonstrasi apabila tuntutan yang disampaikan tidak mendapatkan respons dari pihak terkait.
















