K menjelaskan bahwa ia baru sekitar tiga bulan membeli rumah subsidi di kawasan tersebut. Ia mengutarakan bahwa rumah itu belum memiliki dapur sehingga ia berinisiatif membangunnya dengan menggunakan jasa seorang tukang.
Menurut K, uang adat yang diminta untuk pembangunan dapur saat ini sebesar Rp300 ribu. Berdasarkan informasi yang diterimanya dari penghuni lain, nominal yang diminta sebelumnya mencapai Rp500 ribu ketika jumlah rumah di kompleks tersebut masih sedikit.
K juga menyebut bahwa permintaan uang tidak hanya terjadi saat pembangunan dapur. Berdasarkan informasi dari penghuni lain, ada orang berbeda yang datang meminta uang ketika warga hendak memperdalam tangki septik, memasang kanopi, atau memasang teralis.
Ia memperkirakan terdapat sekitar 70 rumah di kompleks tersebut. Dari jumlah itu, katanya, sekitar 30 rumah telah membangun dapur.
“Penghuni yang membangun dapur dimintai uang adat. Sebagian penghuni memilih untuk membayar karena khawatir pekerjaan pembangunan rumah mereka diganggu,” tutur K.
Meski mendapat ancaman sebagaimana yang diceritakannya, K mengaku tidak membayar uang tersebut. Setelah mempertanyakan dasar permintaan uang itu, pria tersebut akhirnya pergi.
Hingga berita ini dibuat, belum ada keterangan langsung dari pria yang disebut K sebagai mamak kampung mengenai dasar permintaan uang tersebut. Keterangan dari pengurus kompleks dan pemerintah setempat juga belum ada.





















