“Material tersebut meningkatkan volume dan daya rusak aliran air secara signifikan saat mencapai kawasan bawah di Arosuka,” jelasnya.
Menurut Timtim, pemetaan berbasis GIS dapat digunakan untuk membaca pola pergerakan air dari kawasan hulu hingga hilir. Analisis flow direction dan flow accumulation, kata dia, memungkinkan jalur konsentrasi aliran dipetakan dengan lebih jelas.
Teknologi tersebut, lanjutnya, dapat membantu mengubah cara pandang dalam mitigasi bencana. Penanganan tidak hanya diarahkan pada lokasi yang mengalami kerusakan, tetapi juga menelusuri sumber bahaya dan jalur alirannya dari kawasan hulu.
“Mitigasi galodo tidak boleh hanya berfokus pada titik yang rusak, tetapi harus menyasar kawasan hulu, jalur aliran, serta titik konsentrasi air,” tegasnya.
Ia menilai jejak aliran, lokasi longsoran, serta endapan material yang ditinggalkan galodo dapat menjadi data spasial penting untuk memperbarui Peta Bahaya dan Peta Risiko Bencana.
Timtim juga mendorong pemerintah daerah mengevaluasi Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) dengan menggunakan bukti kejadian aktual di lapangan.
Menurut dia, pemulihan pascabencana tidak cukup hanya dengan memperbaiki bangunan dan infrastruktur yang rusak. Evaluasi terhadap sistem ruang juga diperlukan agar kawasan yang berada pada jalur ancaman tidak kembali menghadapi risiko serupa.
“Kita tidak bisa menghentikan hujan turun, tetapi kita bisa memahami bentanglahan dan mengelola tata ruang secara lebih bijak agar bencana serupa tidak terulang,” tutur Timtim.



















