Kabarminang – Bencana banjir bandang dan tanah longsor yang melanda Sumatera Barat sepanjang November hingga Desember 2025 meninggalkan kerusakan infrastruktur yang signifikan. Data terbaru Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat ribuan rumah warga serta fasilitas publik terdampak akibat rangkaian bencana tersebut.
Berdasarkan data terbaru BNPB pada Sabtu (3/1/2026), bencana hidrometeorologi ini berdampak pada 16 kabupaten dan kota di Sumatera Barat. Kerusakan paling dominan terjadi pada sektor perumahan, yang hingga kini masih menjadi tantangan utama dalam proses pemulihan.
BNPB mencatat total 7.742 unit rumah mengalami kerusakan akibat banjir bandang dan longsor. Dari jumlah tersebut, 2.691 rumah mengalami rusak berat, 971 rumah rusak sedang, dan 4.080 rumah rusak ringan. Kondisi ini menyebabkan ribuan warga belum dapat kembali ke rumah masing-masing dan masih bergantung pada hunian sementara.
Kerusakan perumahan tersebar di berbagai daerah, dengan tingkat keparahan berbeda-beda. Sejumlah wilayah mencatat kerusakan cukup masif akibat terjangan banjir bandang yang disertai material longsor.
Selain rumah warga, bencana juga mengakibatkan kerusakan pada berbagai fasilitas publik. BNPB mencatat 7 fasilitas kesehatan rusak, 659 fasilitas pendidikan terdampak, serta 150 rumah ibadah mengalami kerusakan. Kondisi ini berpotensi mengganggu pelayanan dasar masyarakat, khususnya di daerah yang terdampak cukup parah.
Di sektor infrastruktur, 13 jembatan dilaporkan putus, sementara 31 ruas jalan terdampak, sehingga akses ke sejumlah wilayah sempat terisolasi dan memperlambat distribusi bantuan logistik serta proses evakuasi.
Dampak kerusakan tersebut juga berimplikasi pada pengungsian warga. BNPB mencatat sekitar 9.900 jiwa masih mengungsi, dengan konsentrasi terbesar berada di Kabupaten Agam, disusul Tanah Datar, Padang Pariaman, Solok, dan sejumlah daerah lainnya di Sumatera Barat.
Besarnya kerusakan perumahan dan fasilitas umum menunjukkan bahwa proses rehabilitasi dan rekonstruksi di Sumatera Barat masih membutuhkan waktu serta dukungan lintas sektor.
Sementara itu, dalam bencana banjir bandang dan tanah longsor tersebut, BNPB mencatat 262 orang meninggal dunia dan 74 orang dinyatakan hilang.














