Sebagai upaya memperkuat ingatan publik terhadap risiko kebencanaan, Pemerintah Kota Padang Panjang berencana membangun Monumen 100 Tahun Gempa Padang Panjang. Monumen tersebut diharapkan menjadi sarana edukasi mengenai pentingnya pembangunan infrastruktur tahan gempa serta menghindari kawasan rawan longsor.
Selain itu, BMKG juga menggelar kegiatan “Susur Jalur” menjelang peringatan satu abad gempa kembar 1926 pada 28 Juni. Kegiatan tersebut bertujuan memastikan sistem peringatan dini dipahami masyarakat serta meningkatkan kembali kesadaran akan pentingnya kesiapsiagaan.
Hingga saat ini, kolaborasi antara BMKG dan pemerintah daerah di Sumatera Barat disebut berjalan baik melalui pembentukan Desa Tangguh Bencana (Destana) dan Kelurahan Tangguh Bencana (Kaltana). Upaya edukasi juga didukung oleh berbagai komunitas relawan yang membantu penyebaran informasi keselamatan hingga tingkat masyarakat.
Di sisi lain, Suaidi menilai kawasan sesar aktif di Sumatera Barat juga memiliki potensi ekonomi, khususnya dari sektor geowisata. Aktivitas tektonik di wilayah tersebut membentuk berbagai bentang alam yang menarik wisatawan, seperti Danau Singkarak, lima telaga di Koto Baru, mata air panas, dan Air Terjun Lembah Anai.
Potensi tersebut, menurutnya, dapat dimanfaatkan secara aman melalui penerapan tata ruang yang berbasis mitigasi bencana.
















