Kabarminang – Besarnya dampak bencana gempa bumi tidak semata-mata ditentukan oleh magnitudo, tetapi juga dipengaruhi pertemuan antara bahaya guncangan dengan kerentanan manusia, bangunan, serta tata ruang yang tidak siap menghadapi bencana.
Hal itu disampaikan Praktisi Geographic Information System (GIS) Sumatera Barat, Timtim Deby Purnasebta, menyikapi gempa bumi berkekuatan magnitudo 7,4 yang melanda wilayah barat Kolombia pada 10 Agustus 2026.
“Gempa di San José del Palmar, Chocó, Kolombia, berpusat di kedalaman 107 kilometer dan merusak lebih dari 1.600 bangunan serta menewaskan sedikitnya 111 orang. Peristiwa ini membuktikan bahwa kedalaman gempa yang besar tidak otomatis memperkecil dampak kerusakannya,” kata Timtim, Selasa (11/8/2026).
Menurut Timtim, risiko bencana gempa di suatu wilayah merupakan hasil perpaduan empat faktor utama, yakni bahaya (hazard), paparan (exposure), kerentanan (vulnerability), dan kapasitas wilayah (capacity).
Ia menilai Sumatera Barat memiliki karakteristik ancaman geologi yang serupa karena berada di lingkungan tektonik aktif. Wilayah tersebut diapit dua sumber gempa utama, yakni zona subduksi megathrust di pesisir barat dan sistem Sesar Sumatera di daratan.
Kerentanan ruang, kata dia, pernah terlihat dalam tragedi gempa Padang berkekuatan M7,6 pada 30 September 2009. Gempa tersebut menewaskan 1.195 orang serta merusak sekitar 140.000 rumah dan 4.000 bangunan akibat tingginya paparan permukiman.
“Arah pembahasan mitigasi di Sumbar harus diubah, tidak boleh berhenti pada pertanyaan seberapa besar magnitudo gempa yang akan terjadi. Pertanyaan kuncinya adalah bagian ruang mana yang paling rentan, siapa yang berada di dalamnya, dan mengapa,” tegas Timtim.
GIS Perlu Jadi Instrumen Mitigasi
Untuk menjawab persoalan tersebut, Timtim mendorong optimalisasi teknologi GIS secara menyeluruh. Menurutnya, GIS tidak seharusnya hanya digunakan untuk membuat peta lokasi gempa, tetapi juga menjadi instrumen analisis dalam memetakan aset rentan, titik kemacetan evakuasi, hingga kawasan yang menjadi prioritas mitigasi.















