Keputusan itu diambil setelah debit air sungai di sekitar sekolah terus meningkat. Tak lama kemudian, air mulai memasuki lingkungan sekolah hingga mencapai ketinggian sekitar 40 hingga 60 sentimeter, atau setinggi meja belajar.
“Ketinggian air di dalam sekolah mencapai 40 hingga 60 sentimeter atau setinggi meja belajar, dan banjir baru mulai surut sekitar pukul 20.00 hingga 21.00 WIB,” ujarnya.
Gotong Royong Bersihkan Sekolah
Sejak Selasa pagi, guru, tenaga kependidikan, dan warga sekitar bergotong royong membersihkan lumpur yang menutupi ruang kelas maupun halaman sekolah.
Upaya tersebut kemudian diperkuat dengan keterlibatan berbagai instansi, di antaranya Dinas Lingkungan Hidup Kota Padang, Dinas Pemadam Kebakaran, Kelurahan Gunung Sariak, Kecamatan Kuranji, BPMP, serta peninjauan langsung oleh Wali Kota Padang dan Kepala Dinas Pendidikan.
Petugas mengerahkan armada truk operasional serta mobil pemadam kebakaran untuk menyemprot dan membersihkan endapan lumpur yang menutupi fasilitas sekolah.
Amridas menegaskan kegiatan belajar mengajar akan kembali dilaksanakan setelah kondisi sekolah benar-benar aman dan layak digunakan. Sementara itu, seluruh kegiatan ekstrakurikuler luar ruangan juga dihentikan sementara karena lapangan masih dipenuhi lumpur.
Ia menambahkan, sekolah saat ini membutuhkan dukungan untuk mempercepat pemulihan, terutama bantuan meja dan bangku pengganti, penuntasan pembersihan lumpur, serta bantuan bagi tujuh guru yang rumahnya juga terdampak banjir.
Wakil Kepala Bidang Kurikulum SMPN 41 Padang, Ari Warti Wahyuri, mengatakan sekolah tersebut memang kerap terdampak banjir setiap musim hujan. Namun, banjir kali ini disebut sebagai yang paling parah karena menyebabkan kerusakan fasilitas dalam skala besar hingga memaksa sekolah menghentikan sementara kegiatan belajar mengajar.
















