“Ada indikasi perubahan modus sekarang. Jadi, dari jalan raya sekarang sudah main kucing-kucingan lewat jalan tikus. Jalur tersebut antara lain melewati perkebunan dan kawasan perumahan masyarakat,” ucap Wedy.
Waktu pengiriman, kata Wedy, juga berubah. Ia menginformasikan bahwa sebelumnya pengiriman dilakukan pada sore hari, sedangkan kini pengiriman dilakukan pada tengah malam.
“Pola pengangkutan pun berubah. Sebelumnya pengangkutan menggunakan kendaraan roda empat untuk membawa muatan dalam jumlah besar. Kini pengangkutan narkotika dibagi menjadi bagian-bagian kecil untuk kemudian dimasukkan ke dalam jok sepeda motor,” tutur Wedy.
Pengendali dan bandar masih diburu
Wedy mengatakan sejumlah pelaku yang ditangkap dalam perkara narkotika di Sumbar merupakan kurir. Ia menyebut bahwa pengendalinya berada di luar daerah.
“Rata-rata ini pengendali ada di luar Indonesia,” ujarnya.
Menurut Wedy, pengungkapan pengendali dan bandar menghadapi tantangan karena jaringan menggunakan teknologi dan strategi tertentu. Ia menyebut bahwa pelaku di lapangan terkadang tidak mengetahui pihak yang memberikan perintah.
“Mereka gerak perorangan tanpa tahu siapa yang menyuruh mereka,” katanya.
Meski demikian, kata Wedy, polisi memastikan pengembangan perkara tetap dilakukan untuk mengejar jaringan di atas pelaku yang telah ditangkap.
Anak sekolah mulai disasar
Wedy juga menyoroti adanya modus peredaran narkotika yang mulai menyasar anak-anak, termasuk yang masih berstatus pelajar.
Wedy mengatakan bahwa ada beberapa anak yang masih sekolah diamankan dalam perkara narkotika di Sumbar. Ia menyebut bahwa sebagian anak tersebut memiliki minat mengedarkan narkotika karena pengendali memberikan iming-iming uang kepada anak-anak, kemudian mempengaruhi lingkungan sekitar tempat tinggal mereka.















