Kabarminang – Pisang batu asal Kabupaten Kepulauan Mentawai, Sumatera Barat, kini rutin menembus pasar ekspor Malaysia setiap pekan. Namun, di balik peluang tersebut, panjangnya rantai distribusi masih menjadi persoalan yang dinilai merugikan petani dan menekan efisiensi perdagangan.
Eksportir pisang asal Mentawai, Afrizon, berharap Pemerintah Kabupaten Kepulauan Mentawai turun tangan untuk memangkas jalur distribusi dan memperkuat pasokan langsung dari petani. Menurutnya, langkah tersebut dapat membuat perdagangan lebih efisien sekaligus meningkatkan manfaat ekonomi bagi masyarakat di daerah penghasil.
Afrizon mengatakan, ia mulai merintis usaha ekspor pisang pada 2024 setelah mempelajari bisnis tersebut dari seorang agen di Tanjung Balai Karimun. Setelah mendapatkan pengalaman, ia kemudian memberanikan diri menjalankan pengiriman ke luar negeri secara mandiri.
“Saya mulai merintis ekspor ini pada tahun 2024 setelah belajar dari agen di Tanjung Balai Karimun, dan saya sangat mengapresiasi Dinas Perindustrian dan Perdagangan Provinsi Sumatera Barat yang telah mendampingi proses ekspor kami,” ujar Afrizon kepada Sumbarkita, Selasa (27/10/2026).
Menurut Afrizon, tantangan yang perlu segera dibenahi adalah rantai distribusi yang panjang. Pisang dari petani harus melewati sejumlah perantara sebelum sampai ke pasar ekspor di Malaysia.
Saat ini, alur perdagangan dimulai dari petani, kemudian pengepul desa, pengepul di Sikakap, pengepul di Padang, hingga pengepul di Tanjung Balai sebelum pisang dikirim ke Malaysia.
“Alur distribusi saat ini terlalu panjang dan merugikan petani karena harus melewati banyak tangan dari desa, Sikakap, Padang, hingga Tanjung Balai sebelum ke Malaysia,” jelasnya.
Ia berharap pemerintah kabupaten melalui dinas terkait dapat membantu memastikan ketersediaan bahan baku secara konsisten. Afrizon juga mendorong adanya skema perdagangan yang memungkinkan pembelian pisang dilakukan lebih langsung dari daerah asal sehingga rantai pasok menjadi lebih pendek.
















