Kabarminang – Sembilan jam berjalan kaki menembus kawasan hutan. Itulah waktu yang disebut dibutuhkan untuk mencapai salah satu lokasi tambang emas ilegal di Solok Selatan setelah sepeda motor ditinggalkan. Namun, di balik medan yang begitu sulit, ekskavator justru disebut bekerja menggali tanah untuk memburu emas.
Kontras itu menjadi salah satu jejak paling mencolok dalam penelusuran Sumbarkita terhadap aktivitas tambang emas ilegal di sejumlah kawasan hutan Solok Selatan. Untuk manusia, perjalanan menuju lokasi membutuhkan waktu berjam-jam dengan berjalan kaki. Sementara di tengah kawasan yang sama, alat berat berukuran besar disebut dapat beroperasi mengeruk tanah.
Seorang warga yang mengaku pernah masuk ke salah satu lokasi tersebut menceritakan bahwa perjalanan menuju kawasan tambang tidak dapat ditempuh sepenuhnya menggunakan sepeda motor. Kendaraan harus ditinggalkan di titik tertentu, sebelum perjalanan dilanjutkan dengan berjalan kaki menembus kawasan hutan.
“Sekitar sembilan jam berjalan kaki,” kata sumber tersebut kepada Sumbarkita ketika menceritakan perjalanan menuju salah satu lokasi tambang, Kamis (1/10/2026).
Sepeda motor yang ditinggalkan di kawasan tersebut juga disebut tidak selalu diambil pada hari yang sama. Menurut keterangan yang diperoleh, kendaraan dapat dititipkan sekitar satu pekan selama pemiliknya berada di lokasi tambang, dengan biaya sekitar Rp60 ribu.
Dari titik penitipan kendaraan itulah perjalanan disebut berlanjut menuju kawasan tambang. Jalurnya panjang dan sulit, tetapi di ujung perjalanan warga justru menemukan aktivitas yang menggunakan alat berat untuk menggali tanah.
Ekskavator disebut bekerja di tengah kawasan hutan. Material tanah yang dikeruk kemudian diproses untuk mencari kandungan emas, sementara material sisa hasil pengerukan kembali diolah secara manual oleh warga yang berada di lokasi.
Di salah satu titik, jumlah orang yang berada di kawasan tambang disebut dapat mencapai sekitar 100 orang. Mereka tidak seluruhnya melakukan pekerjaan yang sama. Sebagian berada di sekitar aktivitas alat berat, sementara lainnya mengolah material sisa hasil galian secara manual untuk mencari emas.
“Warga hanya dapat bekas hasil galian mesin, atau dikasih dua-tiga sekop untuk diperebutkan bersama,” ujar seorang warga yang mengetahui aktivitas tersebut.


















