Kabarminang – Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (WALHI) Sumatera Barat (Sumbar) mendesak pemerintah mengevaluasi tata ruang dan memulihkan kawasan hulu Gunung Talang setelah banjir bandang atau galodo menerjang Arosuka, Kecamatan Talang, Kabupaten Solok, pada Senin (21/9/2026) malam.
Direktur Eksekutif WALHI) Sumbar, Tommy Adam, menyebut, air bah yang membawa lumpur, kayu, dan batu itu tidak bisa dialaskan semata-mata pada curah hujan tinggi.
“Hujan deras hanyalah pemicu di lapangan, sementara besarnya dampak galodo Arosuka berkaitan langsung dengan kerusakan ekologis di kawasan hulu, perubahan fungsi lahan, dan buruknya tata ruang,” ujarnya kepada Sumbarkita, Rabu (23/9/2026).
Ia menyebut, potensi ancaman bencana di kawasan Gunung Talang sebenarnya telah dipetakan oleh Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) sejak 2007 melalui Peta Kawasan Rawan Bencana Gunungapi. Berdasarkan dokumen tersebut, kawasan perkantoran Pemerintah Kabupaten Solok hingga permukiman warga masuk dalam koridor Kawasan Rawan Bencana (KRB) I yang sangat berisiko diterjang aliran lahar hujan.
“Risiko ini sudah didokumentasikan hampir dua dekade lalu, tetapi pemerintah tidak pernah menerjemahkannya ke dalam kebijakan mitigasi serta pengendalian tata ruang yang nyata,” katanya.
Selain itu, Tommy juga menyoroti langkah pemerintah daerah dalam menjaga kawasan hulu, menegakkan aturan sempadan sungai, serta menyediakan sistem peringatan dini dan jalur evakuasi yang memadai bagi masyarakat.
Ia juga menyoroti perubahan tutupan hutan di Kabupaten Solok. Ia menyebut, berdasarkan analisis spasial WALHI Sumbar, terdapat sekitar 700 hektare tutupan hutan di Kecamatan Batang Barus hilang sepanjang 1995–2024. Sebagian besar kawasan itu berubah menjadi lahan pertanian kering dan perkebunan.
Kemudian, secara keseluruhan di Kabupaten Solok, WALHI mencatat hilangnya 6.000 hektare tutupan hutan sepanjang periode 2000 hingga 2024. Ia menyebut kerusakan hutan tersebut turut didorong oleh maraknya aktivitas pertambangan emas ilegal yang mencakup 1.330 hektare di kawasan hutan dan lahan.





















