Kabarminang — Pakar ekonomi menilai bahwa maraknya warga yang bertahan dalam aktivitas penambangan emas ilegal di Sumatera Barat (Sumbar) dipicu oleh ketimpangan insentif ekonomi serta terbatasnya ketersediaan lapangan kerja yang layak.
Guru Besar Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Andalas (UNAND), Syafruddin Karimi, mengonfirmasi bahwa fenomena tersebut sebagian besar memang merefleksikan kegagalan pemerintah dalam menyediakan pilihan pekerjaan yang memadai.
”Sebagian ya. Hal itu terjadi karena pekerjaan formal, sektor pertanian, dan usaha lokal hanya menghasilkan pendapatan yang jauh lebih rendah ketimbang hasil tambang,” ucap Syafruddin kepada Sumbarkita pada Senin (7/9/2026).
Meski demikian, kata Syafruddin, menyimpulkan persoalan maraknya tambang emas ilegal semata-mata sebagai bentuk kegagalan penciptaan lapangan kerja merupakan langkah penyederhanaan masalah. Ia menilai bahwa pemerintah turut bertanggung jawab karena belum optimal menghadirkan program diversifikasi ekonomi di wilayah pertambangan rakyat.
”Pemerintah ikut bertanggung jawab bila wilayah bekas tambang tidak memiliki program diversifikasi ekonomi, pelatihan kerja, akses modal, hingga infrastruktur pasar,” tutur Syafruddin.
Di samping faktor lapangan kerja, kata Syafruddin, ekosistem tambang emas ilegal juga terus tumbuh akibat dorongan harga emas yang tinggi serta keterlibatan pemodal besar di belakang layar. Ia menyebut bahwa keberadaan jaringan penadah, pasokan alat berat, serta persepsi bahwa penegakan hukum dapat dinegosiasikan ikut memperkuat keberlanjutan operasi tambang liar.
”Tambang emas ilegal ini didorong oleh tingginya harga emas, keberadaan pemodal, jaringan penadah, alat berat, serta ekspektasi bahwa aturan di lapangan dapat dinegosiasikan,” tuturnya.
Oleh sebab itu, Syafruddin menilai penanganan masalah itu tidak akan selesai hanya dengan meluncurkan program bantuan atau padat karya yang bersifat sementara. Ia mendesak pemerintah untuk menciptakan alternatif penghasilan baru yang nilainya sepadan dengan estimasi pendapatan para penambang di lapangan.
















