Kabarminang – Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat inflasi tahunan (year on year/YoY) Sumatera Barat mencapai 3,76 persen pada Agustus 2026. Inflasi tersebut didorong oleh lonjakan harga sejumlah komoditas pangan serta perhiasan.
Kepala BPS Sumbar, Nurul Hasanudin, mengatakan kenaikan daging ayam ras menjadi salah satu komoditas yang memberikan andil terhadap inflasi tahunan maupun bulanan Sumbar pada Agustus 2026.
Ia menebut, secara bulanan (month-to-month), Sumatera Barat mengalami inflasi sebesar 0,18 persen pada Agustus 2026.
“Jika kita bedah per kelompok pengeluaran, sektor makanan, minuman, dan tembakau menjadi penyumbang terbesar inflasi bulanan di Sumbar,” ujar Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Sumatera Barat, Nurul Hasanudin, Selasa (1/9/2026).
Ia melanjutkan, komoditas daging ayam ras menjadi pemicu paling dominan pada inflasi bulanan tersebut dengan memberikan andil sebesar 0,23 persen. Selain daging ayam ras, kenaikan harga cabai rawit di pasaran turut memberikan andil inflasi bulanan sebesar 0,05 persen.
“Namun laju inflasi bulanan berhasil tertahan oleh penurunan harga cabai merah yang memberikan andil deflasi terbesar hingga -0,10 persen,” ujarnya.
Pihaknya juga mencatat komoditas jengkol turut memberikan andil deflasi bulanan sebesar -0,07 persen di tengah kenaikan harga pangan lainnya.
“Untuk akumulasi inflasi tahun kalender dari Januari hingga Agustus 2026, Sumatera Barat berada di angka 1,23 persen,” terang Hasanudin.
















