Kabarminang — Peta politik di Sumatera Barat (Sumbar) memasuki babak baru seiring dengan terbukanya peluang koalisi strategis antara Partai Keadilan Sejahtera (PKS) dan Partai NasDem menuju pemilihan gubernur (pilgub) 2029.
Pengamat politik, Tamrin, menilai bahwa dinamika baru itu didorong oleh adanya kecocokan ideologis yang kuat di antara kedua partai politik tersebut.
”Secara spektrum ideologis, PKS sejatinya jauh lebih berdekatan dengan Partai NasDem dibandingkan dengan Partai Gerindra,” ujar mantan dosen Ilmu Politik Universitas Andalas itu pada Minggu (16/8/2026).
Tamrin menjelaskan bahwa Partai NasDem berada pada spektrum tengah yang mengusung haluan nasionalis-demokrat, sedangkan Gerindra dinilai bergerak agak ke kiri atau lebih dekat dengan corak sosialisme.
Menurut Tamrin, posisi tersebut menempatkan PKS yang berada di kutub kanan memiliki jembatan komunikasi politik yang jauh lebih luwes serta selaras saat berhadapan dengan NasDem.
Tamrin menilai bahwa kesesuaian latar ideologis itu berdampak langsung terhadap kalkulasi figur kepala daerah yang akan didorong ke panggung politik Sumbar.
“Sosok Fadly Amran memiliki kecocokan yang jauh lebih natural untuk bergandengan dengan PKS daripada sosok Vasco Ruseimy,” ucap Tamrin.
Vasco merupakan kader Partai Gerindra yang kini menjabat sebagai Wakil Gubernur Sumbar. Sementara itu, Fadly merupakan Ketua DPW Nasdem Sumbar, yang kini menjabat sebagai Wali Kota Padang.
Selain itu, Tamrin menilai bahwa faktor rekam jejak kepemimpinan Fadly Amran menjadi salah satu variabel kunci yang memperkuat sinyal terbukanya koalisi strategis itu.
















