Kabarminang – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memastikan rentetan aktivitas gempa bumi yang mengguncang wilayah pesisir Sumatra Barat sepanjang Juni 2026 tidak berpotensi menimbulkan tsunami.
Kepala Unit Pelaksana Teknis (UPT) BMKG Stasiun Geofisika Kelas I Padang Panjang, Suaidi Ahadi, menjelaskan bahwa seluruh rangkaian gempa tersebut bersumber dari kawasan Forearc Basin atau cekungan luar Sumatra Barat yang terletak di antara Pulau Sumatra dan Kepulauan Mentawai, tepatnya di sekitar wilayah Pariaman.
Menurut Suaidi, gempa dengan magnitudo antara 3,5 hingga 4,7 yang terjadi dalam beberapa waktu terakhir dipicu oleh aktivitas tektonik normal di zona seismik aktif.
“Rentetan gempa bermagnitudo 3,5 hingga 4,7 yang terjadi belakangan ini dipicu oleh aktivitas tektonik yang masih normal di zona seismik aktif,” ujar Suaidi kepada Sumbarkita, Selasa (23/6/2026).
Ia mengatakan lokasi pusat gempa tersebut secara historis memang berdekatan dengan episenter gempa besar berkekuatan magnitudo 7,6 yang melanda Sumatra Barat pada 2009. Namun, BMKG menegaskan bahwa rangkaian gempa saat ini tidak berasal dari zona megathrust yang selama ini menjadi kekhawatiran masyarakat.
Suaidi menjelaskan bahwa gempa megathrust memiliki karakteristik yang berbeda karena menimbulkan getaran lebih kuat dan berpotensi menyebabkan kerusakan besar.
“Karakteristik gempa megathrust itu sangat khas, getarannya mampu membuat permukaan tanah terlihat bergelombang layaknya karpet, sedangkan rangkaian gempa kali ini murni aktivitas sesar lokal,” katanya.
Berdasarkan data BMKG, aktivitas gempa signifikan selama Juni diawali pada 8 Juni 2026 pukul 13.39 WIB dengan gempa berkekuatan M 4,5 di selatan Padang Pariaman pada kedalaman 68 kilometer. Guncangan tersebut sempat memicu kepanikan warga di sejumlah gedung bertingkat di Kota Padang.
Selanjutnya, pada 20 Juni 2026, gempa berkekuatan M 4,3 kembali mengguncang wilayah Padang dan Pariaman. Warga melaporkan getaran yang dirasakan menyerupai truk bermuatan berat yang sedang melintas.
Peningkatan aktivitas tektonik terjadi pada 21 Juni 2026 ketika wilayah Padang Pariaman dan Pariaman diguncang dua gempa beruntun. Gempa pertama berkekuatan M 4,7 terjadi pada pukul 09.33 WIB akibat aktivitas Sesar Mentawai, kemudian disusul gempa kedua berkekuatan M 3,5 sekitar 15 menit setelahnya.
Menanggapi situasi tersebut, BMKG mengimbau masyarakat Sumatra Barat untuk memahami potensi ancaman bencana sesuai karakteristik wilayah masing-masing. Masyarakat di kawasan pesisir dan Kepulauan Mentawai diingatkan terhadap risiko gempa kuat dan tsunami, sedangkan warga di wilayah pegunungan seperti Padang Panjang dan Solok Selatan diminta mewaspadai aktivitas Sesar Sumatra.
BMKG juga meminta masyarakat agar tidak mudah percaya terhadap informasi yang belum terverifikasi serta terus memantau informasi resmi melalui aplikasi Info BMKG.
Sebagai bagian dari upaya penguatan mitigasi bencana, BMKG berkomitmen mempercepat penyebaran informasi kedaruratan dengan menargetkan pemrosesan parameter sumber gempa dalam waktu kurang dari dua menit setelah kejadian. Informasi mengenai potensi tsunami juga ditargetkan dapat disampaikan kepada publik dalam kurun waktu lima hingga 10 menit setelah gempa terjadi.
















