Kabarminang – Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Provinsi Sumatera Barat mencatat mayoritas komoditas ekspor daerah masih didominasi bahan mentah dan hasil olahan setengah jadi. Kondisi tersebut terjadi akibat proses hilirisasi industri yang dinilai belum berjalan optimal sehingga nilai tambah produk ekspor daerah masih relatif rendah.
Kepala Disperindag Sumbar, Novrial, mengatakan keterbatasan pengolahan menjadi tantangan utama dalam meningkatkan daya saing produk ekspor Sumatera Barat. Menurutnya, sebagian besar komoditas unggulan daerah saat ini baru mencapai tahap pengolahan tingkat awal.
“Daun gambir kita baru diolah menjadi gambir mentah, Tandan Buah Segar sawit sebatas menjadi CPO, dan komoditas ikan mayoritas dikirim dalam bentuk potongan atau irisan,” kata Novrial, Jumat (19/6/2026).
Ia menjelaskan, Sumbar masih kekurangan industri pengolahan tahap lanjutan yang mampu menghasilkan produk siap konsumsi. Hingga kini, fasilitas manufaktur untuk pengalengan, pengembangan merek dagang mandiri, serta pengemasan akhir dinilai masih terbatas.
Lambatnya proses hilirisasi tersebut juga dinilai meningkatkan tekanan pada sektor perkebunan, terutama komoditas minyak sawit mentah atau Crude Palm Oil (CPO). Persaingan di pasar global semakin ketat seiring bertambahnya negara produsen sawit di berbagai kawasan.
“Hilirisasi sawit harus dipercepat karena persaingan global semakin ketat. Kita tidak bisa terus bergantung pada penjualan minyak sawit mentah,” ujarnya.
Di tengah tantangan sektor perkebunan, sektor perikanan Sumbar disebut masih menunjukkan ketahanan yang cukup baik. Novrial menilai produk perikanan Sumbar memiliki pasar khusus yang relatif stabil di sejumlah negara Asia.
Menurutnya, komoditas ikan dari perairan Sumbar memasok kebutuhan restoran premium di Jepang, China, Hong Kong, dan Taiwan sehingga tidak terlalu terdampak gejolak geopolitik global.
Sementara itu, komoditas karet alam Sumbar mengalami penurunan volume dan nilai ekspor sejak 2023. Penurunan tersebut dipengaruhi pergeseran industri global yang mulai beralih ke penggunaan karet sintetis karena lebih efisien secara biaya.
“Karet menjadi dilema besar bagi kita. Harganya di pasar dunia sempat naik, namun permintaan dari sektor manufaktur global justru menurun drastis karena beralih ke bahan sintetis,” ungkap Novrial.
Penurunan juga terjadi pada komoditas buah bertempurung serta produk turunan kelapa seperti bungkil, kopra, dan briket akibat meningkatnya pasokan dari negara pesaing dengan harga yang lebih kompetitif.
Selain itu, ekspor damar batu juga menunjukkan tren penurunan. Selain keterbatasan pasokan dari alam, perkembangan teknologi industri disebut telah mengurangi penggunaan damar batu sebagai bahan baku industri cat dan dempul.
















