Kabarminang — Nilai ekspor Sumatera Barat (Sumbar) pada sektor hasil perikanan, perkebunan, hingga produk olahan sawit merosot tajam hingga 51 persen pada Mei 2026 akibat fluktuasi pasar dunia dan hambatan logistik internasional.
Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Sumbar, Novrial, mengatakan angka ekspor Sumatera Barat anjlok dari sekitar USD 178 juta pada April menjadi hanya USD 87,8 juta pada Mei 2026.
“Penurunan performa ini terjadi karena permintaan global yang melemah secara signifikan hingga harga pasar yang tidak menentu,” ujarnya kepada Sumbarkita, Jumat (19/6/2026).
Selain faktor harga, Novrial menyebut konflik global di wilayah Asia Selatan turut memperparah keadaan. Ketegangan geopolitik dari kawasan Teluk Benggala hingga Bangladesh, Myanmar, dan Pakistan memaksa banyak kapal kargo menghindari jalur pelayaran tersebut selama bulan Mei.
“Konflik bersenjata di jalur utama Asia Selatan membuat ketersediaan layanan pelayaran menjadi sangat terbatas. Akibatnya, biaya logistik membengkak dan pengiriman barang dari Sumbar menjadi terhambat,” tuturnya.
Kondisi perdagangan luar negeri Sumbar saat ini juga tercatat jauh lebih buruk dibandingkan dengan periode yang sama pada tahun lalu. Data Disperindag Sumbar menunjukkan performa ekspor bulan Mei 2026 berada di bawah pencapaian Mei 2025 yang saat itu mampu menyentuh angka USD 737,6 juta.
Novrial menyebut Pemerintah Provinsi Sumatera Barat kini tengah memetakan langkah strategis untuk menghadapi tantangan ini dengan berencana memperluas jangkauan pasar ke negara tujuan alternatif yang tidak terdampak konflik jalur logistik.
Ia mengatakan, pihaknya juga terus mendorong para eksportir lokal untuk meningkatkan efisiensi produksi di dalam negeri agar produk asal Sumatera Barat tetap memiliki daya saing tinggi saat situasi pasar internasional kembali pulih.
















