Kabarminang — Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Sumbar, Novrial, menyebut ekspor bahan baku setengah jadi serta produk pertanian dan perkebunan ke sembilan negara mitra terhenti per Mei 2026.
Ia merinci sembilan negara itu, yakni Belgia, Finlandia, Iran, Mozambik, Norwegia, Afrika Selatan, Spanyol, Swedia, dan Inggris.
“Ada sembilan negara yang sementara waktu berhenti menerima produk kita per Mei lalu. Langkah tersebut diambil akibat situasi dan kondisi pasar yang sepi, negara tersebut merupakan produsen komoditas sejenis, hingga pengalihan pasar ke wilayah konflik,” katanya kepada Sumbarkita, Jumat (19/6/2026).
Ia melanjutkan, karakteristik produk ekspor Sumbar hingga kini masih didominasi oleh hasil bumi mentah, dengan sebagian besar komoditas baru menyentuh pengolahan tahap pertama dan kedua atau barang setengah jadi.
“Mayoritas ekspor kita masih berupa industri olahan tahap satu dan dua. Contohnya daun gambir yang baru diolah menjadi ekstrak gambir, Tandan Buah Segar (TBS) menjadi CPO, serta komoditas ikan yang baru sebatas dipotong atau diiris,” ujarnya.
Ia mengatakan, kondisi tersebut menunjukkan bahwa Sumbar masih sangat kekurangan industri olahan tahap ketiga sehingga belum optimal dalam menghasilkan produk jadi yang siap dikonsumsi dengan pengemasan (packaging) dan merek dagang sendiri.
“Tantangan terbesar kita saat ini adalah minimnya industri olahan tahap tiga, seperti produk pengalengan (canning). Padahal, nilai tambah ekonomi terbesar berada pada hilirisasi produk jadi tersebut,” ucapnya.
Ia melanjutkan, kebutuhan akan percepatan hilirisasi ini semakin mendesak mengingat persaingan global pada sektor komoditas unggulan seperti kelapa sawit kini semakin ketat. Sumbar tidak lagi melenggang sendirian di pasar internasional.
















