Kabarminang — Pesta Budaya Tabuik di Kota Pariaman, Sumatera Barat, tidak hanya dikenal sebagai atraksi wisata yang mampu menyedot ratusan ribu pengunjung setiap tahun. Di balik kemeriahan arak-arakan dan dentuman gandang tasa, setiap prosesi Tabuik menyimpan makna filosofis yang diwariskan turun-temurun oleh masyarakat.
Tuo Tabuik, Zulbahri, mengatakan rangkaian Tabuik diawali dengan prosesi Maambiak Tanah, yaitu mengambil segenggam tanah dari dasar sungai yang kemudian dibawa ke daraga atau rumah tabuik.
“Maambiak Tanah melambangkan asal-usul manusia. Manusia berasal dari tanah dan pada akhirnya akan kembali ke tanah. Itu menjadi pengingat bagi kita semua tentang kehidupan,” katanya, Rabu (17/6).
Kemudian, setelah Maambiak Tanah, rangkaian dilanjutkan dengan Manabang Batang Pisang, yang merupakan simbol gugurnya cucu Nabi Muhammad SAW, Husain bin Ali, dalam peristiwa Karbala yang menjadi latar sejarah lahirnya tradisi Tabuik.
“Prosesi ini mengingatkan pada peristiwa syahidnya Husain di Padang Karbala. Dalam prosesi itu, batang pisang ditebas menggunakan pedang,” ujarnya.
Rangkaian berikutnya adalah Maradai, yakni kegiatan mengumpulkan sumbangan dari masyarakat untuk mendukung pelaksanaan Tabuik. Menurut Zulbahri, Maradai menunjukkan kuatnya nilai kebersamaan dan gotong royong masyarakat Pariaman yang tetap terjaga hingga saat ini.
“Tabuik tidak bisa dilaksanakan sendiri. Dari dulu selalu ada partisipasi masyarakat melalui Maradai,” katanya.
Selanjutnya, rangkaian berikutnya adalah Maatam. Tuo Tabuik, Alwis Ilyas, mengatakan prosesi Maatam merupakan bagian dari rangkaian yang menggambarkan suasana duka atas wafatnya Husain bin Ali.
















