“Maatam adalah ungkapan kesedihan. Ini bagian dari sejarah yang diwariskan dalam tradisi Tabuik,” katanya.
Setelah itu, masyarakat melaksanakan Maarak Jari-jari dan Maarak Saroban. Jari-jari merupakan bagian kerangka Tabuik, sedangkan saroban atau sorban menjadi simbol yang berkaitan dengan Husain bin Ali.
Menurut Alwis, kedua prosesi tersebut menjadi bagian penting sebelum memasuki tahapan puncak perakitan Tabuik.
Kemudian menjelang puncak pesta budaya, dilaksanakan prosesi Tabuik Naik Pangkek, yakni menyatukan seluruh bagian Tabuik yang sebelumnya dibuat secara terpisah.
“Pada tahap ini seluruh bagian Tabuik dirakit menjadi satu bangunan utuh. Masyarakat biasanya sangat menantikan prosesi ini karena menjadi penanda Tabuik hampir selesai,” ujarnya.
Puncak kemeriahan berlangsung saat Hoyak Tabuik, ketika bangunan Tabuik diarak dan digoyang-goyangkan diiringi tabuhan gandang tasa.
Alwis mengatakan Hoyak Tabuik menjadi tradisi yang paling banyak menarik perhatian masyarakat dan wisatawan.
“Hoyak Tabuik adalah puncak kemeriahan pesta budaya ini. Di situlah masyarakat bisa melihat Tabuik diarak sebelum dibawa ke pantai,” katanya.
















