Kabarminang – Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) masih bertahan di bawah level Rp18.000 per dolar AS setelah sempat menembus angka tersebut pada awal pekan lalu.
Berdasarkan data Google Finance pada Minggu (14/6/2026) pagi, kurs dolar AS tercatat berada di level Rp17.779,30. Posisi tersebut nyaris tidak berubah dibandingkan penutupan sebelumnya.
Stabilnya pergerakan kurs menunjukkan tekanan terhadap rupiah mulai mereda setelah sempat mengalami pelemahan signifikan beberapa hari lalu. Saat itu, nilai tukar rupiah bahkan sempat menyentuh kisaran Rp18.180 per dolar AS dan memicu kekhawatiran di kalangan pelaku pasar.
Jika dibandingkan posisi tertinggi pada awal pekan tersebut, rupiah kini masih menguat sekitar Rp400 per dolar AS. Penguatan tersebut membuat mata uang Garuda kembali bergerak di bawah level psikologis Rp18.000 per dolar AS yang selama ini menjadi perhatian pelaku ekonomi.
Meski demikian, pergerakan rupiah masih dipengaruhi berbagai faktor global, mulai dari kebijakan suku bunga bank sentral Amerika Serikat (The Fed), perkembangan harga komoditas dunia, hingga kondisi geopolitik internasional.
Selain itu, pelaku pasar juga terus mencermati arah perekonomian global yang masih menghadapi berbagai tantangan, termasuk perlambatan pertumbuhan ekonomi di sejumlah negara dan ketidakpastian perdagangan internasional.
Bagi Indonesia, stabilitas nilai tukar rupiah memiliki peran penting karena berpengaruh terhadap biaya impor, harga bahan baku industri, hingga inflasi. Rupiah yang lebih kuat umumnya membantu menekan biaya impor dan menjaga stabilitas harga barang di dalam negeri.
Meski pergerakan hari ini relatif datar, kemampuan rupiah bertahan di kisaran Rp17.700-an dinilai menjadi sinyal positif setelah tekanan yang terjadi sepanjang pekan lalu. Pelaku pasar kini menunggu sentimen baru yang dapat menentukan arah pergerakan rupiah pada perdagangan pekan depan.















