Kabarminang — Masyarakat Nagari Koto VIII Palangai menyambut antusias rencana pelaksanaan Program Pengabdian Universitas Islam Negeri (UIN) Imam Bonjol Padang yang akan dilaksanakan dalam beberapa bulan ke depan.
Wali Nagari Koto VIII Palangai, Safridul, mengatakan bahwa sinkronisasi program pembangunan nagari dengan agenda pengabdian perguruan tinggi diyakini akan memberikan dampak besar bagi kemajuan masyarakat, terutama pada bidang sosial-keagamaan, pendidikan remaja, pemberdayaan ekonomi kreatif, dan literasi digital.
Dalam beberapa bulan mendatang, program Kuliah Kerja Nyata (KKN) dan pengabdian dosen akan mulai menyasar berbagai persoalan mendasar yang selama ini membutuhkan pendampingan berkelanjutan.
“Kami sangat menunggu kiprah kampus untuk kemitraan ini. Beberapa program Pemerintah Kabupaten Pesisir Selatan memang menunggu mahasiswa maupun dosen untuk mendampinginya,” ujar Safridul saat menerima tim dari Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (LPPM) UIN Imam Bonjol Padang di ruang kerjanya, Kamis (7/5).
Menurut Safridul, kehadiran perguruan tinggi di tengah masyarakat dapat memperkuat pembangunan berbasis pengetahuan sekaligus menghadirkan pendekatan baru dalam menyelesaikan berbagai persoalan sosial di nagari.
Ia menilai bidang sosial-keagamaan, ekonomi kreatif, dan penguatan kapasitas digital masyarakat menjadi sektor yang membutuhkan pendampingan. Perkembangan teknologi dan media sosial, katanya, menghadirkan peluang sekaligus tantangan bagi generasi muda.
Menurutnya, kemajuan teknologi membuka ruang kreativitas dan usaha, namun juga berpotensi memunculkan penyalahgunaan media digital, rendahnya literasi, hingga menurunnya aktivitas sosial dan keagamaan remaja.
Karena itu, Safridul berharap pendampingan dari perguruan tinggi mampu menghadirkan ruang yang produktif dan kreatif bagi generasi muda agar memiliki orientasi masa depan yang jelas.
Pandangan tersebut mendapat dukungan dari unsur Bundo Kanduang, Badan Musyawarah, pemuda, dan Badan Usaha Milik Nagari yang turut hadir dalam pertemuan tersebut. Mereka menilai remaja membutuhkan ruang ekspresi yang sehat, edukatif, dan mampu membangun karakter.
Menurut mereka, minimnya aktivitas kreatif dan ruang pembinaan berisiko mendorong sebagian remaja terlibat dalam pergaulan bebas, kecanduan gawai, balap liar, penyalahgunaan narkoba, dan berbagai aktivitas negatif lainnya.
“Kami merasa perlu ada kampanye antinarkoba bagi remaja dengan pendekatan keagamaan. Menggalakkan mereka untuk hadir di masjid. Di samping itu, menghadirkan modul pesantren kilat yang impresif dan menyenangkan bagi mereka. Manfaatnya besar sekali. Kita punya TPA yang juga perlu pendampingan agar berkembang lebih baik,” ujar perwakilan Bundo Kanduang.
Mereka berharap mahasiswa dan dosen yang nantinya hadir di nagari tidak hanya menjalankan program formal, tetapi juga menjadi pendamping bagi generasi muda. Sejumlah kegiatan seperti pelatihan konten digital Islami, public speaking, seni budaya bernuansa religius, desain grafis, kewirausahaan muda, olahraga, dan komunitas literasi dinilai penting untuk meningkatkan kepercayaan diri remaja.
Dengan pendekatan tersebut, masjid dan ruang publik nagari diharapkan dapat kembali menjadi pusat aktivitas sosial yang menarik bagi kalangan muda.
Ketua LPPM UIN Imam Bonjol Padang, Wakidul Kohar, mengatakan bahwa identifikasi potensi aset nagari menjadi langkah awal agar program pengabdian dapat berjalan tepat sasaran dan memberikan manfaat yang maksimal.
Menurutnya, program pengabdian perguruan tinggi harus berangkat dari kebutuhan riil masyarakat sehingga mampu memberikan dampak jangka panjang dan memperkuat kapasitas masyarakat secara mandiri.
“Setiap masukan dari elemen masyarakat akan diolah agar peserta Kuliah Kerja Nyata dan dosen pendamping bisa melaksanakan pengabdian yang berdampak di tengah masyarakat. Sebab itu, kita meminta banyak informasi seputar pembangunan kepada unsur nagari,” ujarnya.
Ia menambahkan bahwa UIN Imam Bonjol Padang ingin menjadikan pengabdian sebagai gerakan kolaboratif antara kampus dan masyarakat, bukan sekadar kegiatan seremonial tahunan.
Dalam pertemuan tersebut, tim LPPM UIN Imam Bonjol Padang yang terdiri atas Rahmat Satria Dinata, M.Pd., Dr. Abdullah Khusairi, M.A., Dr. Herman Syahkiki, M.H., dan Syamsir, S.Ag., juga berdiskusi dengan unsur ninik mamak mengenai berbagai tantangan sosial yang dihadapi masyarakat.
Diskusi membahas sejumlah isu, antara lain pendidikan keagamaan, penguatan adat, ketahanan keluarga, serta masa depan generasi muda di era digital. Tim juga memaparkan profil UIN Imam Bonjol Padang yang menjalankan Tri Dharma Perguruan Tinggi melalui pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat.
Nagari Koto VIII Palangai direncanakan menjadi wilayah pendampingan UIN Imam Bonjol Padang selama tiga tahun ke depan. Program tersebut diharapkan dapat melahirkan model pengabdian yang berkelanjutan, menghadirkan perubahan sosial yang nyata, serta membentuk generasi muda yang religius, kreatif, produktif, dan siap menghadapi tantangan zaman.
















