Kabarminang – Kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) non-subsidi membuat sejumlah konsumen di SPBU Sawahan, Kelurahan Sawahan, Kecamatan Padang Timur, Kota Padang, terkejut. Sebagian pengguna Pertamax bahkan mulai mempertimbangkan beralih ke bahan bakar lain yang lebih terjangkau karena biaya pengisian kendaraan meningkat.
Salah seorang konsumen, Hilda Wilza (63), pensiunan TNI, mengaku baru mengetahui adanya kenaikan harga saat mengisi bahan bakar untuk mobilnya di SPBU Sawahan pada Rabu (10/6/2026).
“Ibu kaget harganya naik, biasanya tidak sampai segitu. Biasa isi penuh, sekarang tidak lagi,” ujar Hilda.
Menurutnya, kenaikan harga membuat jumlah BBM yang diperoleh dari nominal uang yang sama menjadi lebih sedikit. Ia mencontohkan, dana Rp150 ribu yang biasanya cukup untuk membeli sekitar 10 liter Pertamax kini hanya mendapatkan sekitar 8 liter setelah harga naik.
“Berharap harga Pertamax itu standar yang semampu masyarakat,” katanya.
Hilda mengaku kemungkinan akan mengurangi penggunaan Pertamax dan kembali menggunakan Pertalite jika harga BBM non-subsidi terus berada pada level yang tinggi.
“Dengan harga semahal itu tidak sanggup lagi mengisi Pertamax lagi, kemungkinan bakal beralih ke Pertalite lagi,” tuturnya.
Keluhan serupa disampaikan Akmal (65), pengendara mobil lainnya yang juga mengisi Pertamax di SPBU Sawahan. Ia mengaku tidak mengetahui sebelumnya bahwa harga Pertamax telah mengalami kenaikan.
Meski demikian, Akmal mengatakan tetap menggunakan Pertamax karena kendaraan yang digunakannya selama ini terbiasa memakai jenis bahan bakar tersebut. Selain itu, ia mengaku belum memiliki barcode yang diperlukan untuk pembelian Pertalite.
Pada kesempatan itu, Akmal mengisi Pertamax senilai Rp350 ribu untuk kendaraannya. Ia mengaku hanya bisa menerima kebijakan kenaikan harga tersebut sebagai konsumen.
“Rela saja, karena tidak bisa ngapa-ngapain terkait kenaikan harga Pertamax ini,” ujarnya.
Akmal juga mengaku pesimistis terhadap kemungkinan adanya perubahan kebijakan harga BBM dari pemerintah.
“Tidak berharap kepada pemerintah karena sudah pesimis dengan pemerintah,” katanya.
Kenaikan harga BBM non-subsidi tersebut mulai memengaruhi pola konsumsi masyarakat. Sebagian konsumen memilih mengurangi volume pembelian, sementara yang lain mempertimbangkan beralih ke jenis bahan bakar yang lebih murah.
Diketahui, Pertamina Patra Niaga resmi melakukan penyesuaian harga BBM non-subsidi di seluruh Indonesia. Harga Pertamax (RON 92) naik dari Rp12.300 menjadi Rp16.250 per liter, sedangkan Pertamax Green 95 (RON 95) meningkat dari Rp12.900 menjadi Rp17.000 per liter. Sementara itu, harga BBM bersubsidi seperti Pertalite dan Solar tidak mengalami perubahan.















