Kabarminang – Universitas Islam Negeri (UIN) Imam Bonjol Padang menggelar kuliah umum dalam rangka memperingati Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) 2026 bersama Kapolda Sumatera Barat, Selasa (5/5/2026).
Kegiatan tersebut berlangsung di Gedung J Kampus III UIN Imam Bonjol yang berada di Balai Gadang, Kecamatan Koto Tangah, Kota Padang.
Rektor UIN Imam Bonjol Padang, Martin Kustati, mengatakan kuliah umum ini tidak sekadar menjadi forum akademik, tetapi juga sebagai panggilan moral bagi seluruh insan pendidikan.
“Kuliah umum yang kita adakan hari ini bukan sekadar wacana akademik, tetapi merupakan panggilan moral dan tanggung jawab kolektif kita sebagai insan pendidikan dan sebagai warga bangsa,” ujarnya.
Ia menegaskan, pendidikan bermutu tidak hanya diukur dari capaian akademik semata, tetapi juga harus mampu membentuk karakter manusia yang utuh.
“Pendidikan bermutu tidak lagi cukup dimaknai sebagai pencapaian angka-angka akademik atau prestasi kognitif semata, tetapi harus mampu melahirkan manusia yang utuh, yakni manusia yang berilmu, berintegritas, dan memiliki kepedulian tinggi terhadap lingkungan hidup,” katanya.
Menurutnya, tantangan global saat ini seperti krisis ekologis, perubahan iklim, dan degradasi lingkungan menuntut dunia pendidikan untuk mengambil peran strategis dalam membentuk generasi yang peduli terhadap kelestarian alam.
“Kampus sebagai pusat pengembangan ilmu pengetahuan memiliki peran penting dalam membangun kesadaran tersebut,” ujarnya.
Ia menambahkan, UIN Imam Bonjol Padang terus berupaya mengintegrasikan nilai-nilai keberlanjutan dalam berbagai aspek pendidikan, mulai dari kurikulum, penelitian, hingga pengabdian kepada masyarakat.
“Kami meyakini bahwa pendidikan yang berkualitas adalah pendidikan yang mampu menyentuh dimensi intelektual, spiritual, dan ekologis secara bersamaan. Oleh karena itu, pembentukan karakter cinta lingkungan menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari proses pendidikan yang kami jalankan,” jelasnya.
Martin juga menyoroti keterkaitan erat antara persoalan lingkungan dengan aspek sosial, ekonomi, hingga keamanan. Ia menyebut kerusakan lingkungan dapat memicu konflik, bencana, dan ketidakstabilan sosial.
“Karena itu, sinergi antara dunia pendidikan dan aparat penegak hukum menjadi sangat penting dalam menciptakan masyarakat yang sadar, tertib, dan peduli terhadap lingkungan,” katanya.
Dalam perspektif keislaman, lanjutnya, menjaga lingkungan merupakan bagian dari amanah manusia sebagai khalifah di muka bumi. Ia menilai kerusakan lingkungan seringkali terjadi akibat perilaku manusia yang tidak bertanggung jawab.
“Oleh karena itu, pendidikan harus mampu menanamkan nilai-nilai spiritual yang kuat, sehingga setiap individu memiliki kesadaran bahwa menjaga lingkungan adalah bagian dari ibadah dan bentuk ketaatan kepada Allah SWT,” tutupnya.
















