Kabarminang — Badan Pusat Statistik (BPS) Sumatera Barat (Sumbar) mengeluarkan hasil survei bahwa pertumbuhan ekonomi provinsi itu pada triwulan I 2026 berada di bawah pertumbuhan ekonomi rata-rata nasional.
Kepala BPS Sumbar, Nurul Hasanudin, menyampaikan bahwa pertumbuhan ekonomi Sumbar pada triwulan I tahun ini 5,02 persen secara tahunan (years on years/YoY). Sementara itu, katanya, pertumbuhan ekonomi rata-rata nasional pada triwilun I tahun 5,6 persen.
Meskipun pertumbuhan tersebut di bawah rata-rata nasional, Hasanudin mengatakan bahwa pertumbuhan itu naik daripada pertumbuhan ekonomi Sumbar triwulan sebelumnya, yang sebesar 3,15 persen. Menurutnya, hal itu menunjukkan resiliensi yang kuat di tengah pemulihan pascabencana.
“Pertumbuhan ini tergolong signifikan mengingat pada periode Oktober—Desember 2025 Sumbar sempat mengalami tekanan ekonomi akibat bencana alam. Kondisi ini berbanding terbalik dengan banyak provinsi lain di Pulau Sumatera, yang justru mengalami kontraksi atau pertumbuhan negative,” ujar Hasanudin dalam jumpa pers pertumbuhan ekonomi Sumbar di Kantor BPS Sumbar pada Selasa (5/5/2026).
Hasanudin menginformasikan bahwa rampungnya perbaikan infrastruktur publik menjadi salah satu mesin penggerak utama pemulihan ekonomi Sumbar saat ini. Ia menyebut bahwa akses transportasi di kawasan strategis seperti Lembah Anai kini telah berfungsi normal kembali sehingga arus barang dan jasa menjadi lebih lancar. Ia menilai bahwa hal itu berdampak langsung pada efisiensi distribusi logistik di berbagai wilayah Sumbar.
Hasanudin menyoroti pembangunan Jembatan Layang Sitinjau Lauik sebagai pemicu utama pertumbuhan ekonomi Sumbar, khususnya pada sektor konsumsi dan konstruksi. Ia menyampaikan bahwa proyek strategis nasional itu memberikan efek domino terhadap aktivitas ekonomi masyarakat di sekitar lokasi pembangunan. Karena itu, katanya, sektor konstruksi mendapatkan suntikan tenaga besar dari pengerjaan fisik proyek-proyek infrastruktur jalan tersebut.
Perihal kinerja sektoral, Hasanudin merinci bahwa lima sektor unggulan di Sumbar mencatatkan pertumbuhan positif pada awal tahun 2026. Ia mengatakan bahwa sektor perdagangan memimpin dengan pertumbuhan 6,11 persen, sektor konstruksi tumbuh 5,49 persen, sektor industri tumbuh 5,05 persen, transportasi tumbuh 3,8 persen, dan pertanian stabil pada angka 3,14 persen.
Hasanudin juga menyampaikan bahwa investasi fisik atau pembentukan modal tetap bruto (PMTB) tumbuh sangat impresif sebesar 7,64 persen. Pihaknya menilai bahwa tingginya angka investasi itu terlihat nyata dari masifnya proyek konstruksi jalan dan infrastruktur publik yang sedang berjalan di berbagai daerah.
















