Kabarminang — Upaya pemulihan lahan pertanian terdampak bencana di Kabupaten Padang Pariaman menunjukkan hasil signifikan. Hingga akhir April 2026, realisasi rehabilitasi dan optimalisasi lahan telah mencapai 82 persen dari target, dan menjadi yang tertinggi di Sumatera Barat.
Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Kabupaten Padang Pariaman, Hendri Satria, mengatakan, realisasi rehabilitasi dan optimalisasi lahan telah mencapai 527 hektare dari target 644 hektare atau mencapai 82 persen.
“Ini merupakan capaian tertinggi di Sumatera Barat. Di bawahnya, Kota Padang sekitar 68 persen dan Kabupaten Solok 60 persen,” ujarnya.
Ia merinci, seluruh lahan dengan kategori rusak ringan seluas 446 hektare telah tertangani sepenuhnya melalui program optimalisasi lahan. Sementara itu, lahan rusak sedang seluas 238 hektare baru terealisasi 198 hektare. Sisanya sekitar 40 hektare belum dapat ditangani karena tidak memenuhi ketentuan teknis Kementerian Pertanian.
“Lahan yang tersisa tersebar dalam hamparan kecil sehingga belum memenuhi syarat teknis untuk intervensi program,” katanya.
Adapun lahan dengan kategori rusak berat seluas 450 hektare masih menunggu formulasi bantuan dari pemerintah pusat, termasuk kepastian besaran bantuan dan skema pelaksanaan di lapangan. Kemudian, penanganan untuk sawah yang hilang seluas 100 hektare saat ini masih menanti kebijakan dari Kementerian Pertanian dengan opsi pencetakan sawah baru di lokasi lain dengan syarat luasan minimal lima hektare.
“Kami berharap ke depan ada solusi konkret dari pemerintah pusat agar seluruh lahan terdampak dapat dipulihkan secara menyeluruh dan petani dapat kembali berproduksi secara optimal,” imbuhnya.
















