Kabarminang – Menjaga eksistensi selama lebih dari empat dekade bukanlah perkara mudah bagi pelaku usaha kuliner. Namun, Rumah Jajan Bu Henny yang berlokasi di Jalan Niaga Kelurahan No. 273, Kampung Pondok, Kecamatan Padang Barat, Kota Padang, membuktikan bahwa adaptasi dan konsistensi adalah kunci utama bertahan di tengah ketatnya persaingan.
Meski nama Rumah Jajan Bu Henny baru resmi digunakan pada tahun 2025, usaha ini sebenarnya memiliki sejarah panjang yang bermula sejak 1984. Selama 40 tahun sebelumnya, toko ini sangat populer dengan nama Toko Kue Hokky.
“Karena ada pihak lain yang lebih dulu mematenkan nama (Toko Kue Hokky) tersebut, kami akhirnya mengganti nama menjadi Rumah Jajan Bu Henny. Jadi, total usaha ini sudah berjalan sekitar 42 tahun,” ungkap Henny Suryadi (45), pemilik Rumah Jajan Bu Henny saat berbincang hangat mengenai sejarah bisnisnya, Sabtu (2/5/2026).
Bisnis ini berawal dari kegigihan suami Henny yang mulai berjualan kebutuhan sehari-hari dan menerima titipan kue di Pasar Tanah Kongsi sesaat setelah lulus SMA. Seiring berjalannya waktu, mereka mulai memproduksi kue sendiri.
Pada tahun 1990, usaha ini mulai menempati lokasi saat ini di Kampung Pondok, meski saat itu operasionalnya masih berbasis pesanan via telepon.
Baru pada rentang tahun 2018 hingga 2020, toko ini bertransformasi menjadi toko modern dengan display produk yang jelas seperti yang terlihat sekarang.
Rumah Jajan Bu Henny menawarkan pilihan produk yang sangat beragam, mulai dari camilan ringan seharga Rp15.000 hingga produk premium kelas atas.
“Untuk yang paling mahal biasanya kue lapis legit, harganya sekitar Rp700.000 sampai Rp750.000,” jelas Henny.
Menurutnya, harga tersebut menyesuaikan dengan kualitas bahan dan kerumitan proses produksi.
Selain memproduksi sendiri aneka kue basah, kue kering, hingga bika ambon, toko ini juga merangkul pelaku UMKM lainnya dengan menerima titipan produk khas daerah lain, seperti kerupuk tertentu yang didatangkan langsung dari daerah asalnya.
Di era digital, Rumah Jajan Bu Henny tidak menutup mata terhadap tren pasar. Henny menyebutkan bahwa pihaknya harus selalu adaptif dalam mencoba produk baru.
Sebagai gambaran, untuk produk yang tengah digemari seperti mochi cookies, kapasitas produksinya bisa mencapai 1.000 hingga 1.500 cookies per hari.
Meski target utamanya adalah ibu-ibu muda dan anak muda, Henny menegaskan bahwa menjaga kualitas rasa tetap menjadi tantangan terbesar.
Pihaknya menerapkan Standar Operasional Prosedur (SOP) yang ketat untuk setiap produk, mengingat daya tahan produk yang beragam, seperti kue basah yang hanya bertahan 6 hingga 8 jam.
“Menjaga kualitas rasa, standar produksi, dan pelayanan itu yang paling menantang. Kami tidak fokus ke pesaing, tapi fokus pada diri sendiri untuk memastikan pelanggan mendapatkan kualitas yang sama setiap kali membeli,” tutupnya.
















