Kabarminang — Luka psikologis sering kali tidak terlihat, tetapi berdampak besar terhadap kehidupan remaja jika tidak ditangani dengan tepat.
Hal itu disampaikan oleh Wakil Menteri Kesehatan, Dante Saksono Harbuwono, dalam Bedah Buku: Pertolongan Pertama pada Luka Psikologis bagi First Aider di Sekolah Jenjang SMP dan SMA di aula Siwabessy gedung Prof. Sujudi Kementerian Kesehatan di Jakarta pada Kamis (23/4/2026). Kegiatan itu dilakukan utnuk meningkatkan literasi serta keterampilan dasar siswa dalam mengenali dan merespons masalah kesehatan mental di lingkungan sekolah.
“Kalau teman kita jatuh saat bermain, kita langsung bantu karena lukanya terlihat. Tapi, bagaimana jika yang terluka adalah perasaan? Sering kali kita diam, bukan karena tidak peduli, tapi karena tidak tahu harus berbuat apa,” Dante.
Ia mengungkapkan bahwa berdasarkan Indonesia-National Adolescent Mental Health Survey (I-NAMHS) 2022, sekitar 1 dari 3 remaja Indonesia mengalami masalah kesehatan mental. Bahkan, data terbaru menunjukkan gejala depresi dan kecemasan pada remaja bisa hampir lima kali lebih tinggi dibanding kelompok usia dewasa.
“Artinya, mungkin ada teman di sekitar kita yang terlihat baik-baik saja, padahal sedang berjuang dalam diam. Di sinilah pentingnya kemampuan pertolongan pertama pada luka psikologis,” ucapnya.
Menurutnya, keterampilan itu tidak memerlukan keahlian khusus, tetapi cukup dengan kepedulian dan keberanian untuk hadir bagi sesama.
“Kalian tidak harus jadi ahli. Cukup jadi manusia yang peduli. Mau mendengarkan tanpa menghakimi, memahami sebelum menilai, dan berani berkata: kamu tidak sendirian,” tuturnya
Ia menyampaikan pesan sederhana sekaligus bermakna bagi generasi muda: “Jadilah alasan seseorang merasa tidak sendirian hari ini.”
















