Kabarminang — Setelah dua minggu mengungsi setelah rumahnya terancam longsor, Nur Laila tak pernah menyangka perjuangan terberat justru dimulai setelah ia meninggalkan rumahnya sendiri. Perempuan yang tinggal di Korong Lubuak Napa, Nagari Anduriang, Kecamatan 2×11 Kayu Tanam, Padang Pariaman, itu kini harus bertahan hidup bersama suami dan dua anaknya di sebuah rumah toko (ruko) sempit sewaan di Korong Pasa Karambia, Nagari Guguak, Kecamatan 2×11 Kayu Tanam, tanpa kepastian masa depan tempat tinggal.
Rumah Nur Laila sebelumnya berada tepat di bibir bukit yang mengalami retakan besar akibat bencana alam. Sebagian lereng bahkan telah longsor, membuat lokasi tersebut dinilai berbahaya untuk dihuni. Pemerintah setempat saat itu meminta keluarga Nur Laila segera mengungsi demi keselamatan.
Namun, setelah dua pekan hidup berpindah-pindah tanpa kejelasan, keluarga kecil itu akhirnya mengambil keputusan sendiri. Mereka menyewa sebuah ruko kecil dengan biaya Rp3,5 juta per tahun menggunakan dana pribadi.
“Kami disuruh mengungsi, tapi setelah itu tidak tahu harus tinggal di mana lagi,” ujar Nur Laila kepada Kabarminang.com pada Sabtu (28/2/2026).
Untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, Nur Laila kini mencoba bertahan dengan berjualan gorengan di depan ruko kontrakannya. Suaminya, Soni Harifin, bekerja sebagai tukang penebang kayu dengan penghasilan yang tidak menentu.
Ruko yang mereka tempati jauh dari kata layak sebagai hunian keluarga. Ruangan sempit itu harus menampung seluruh aktivitas hidup mereka, dari tidur hingga berjualan.
Meski bantuan sembako dari nagari masih diterima, persoalan terbesar bagi Nur Laila bukan lagi soal makan, melainkan kepastian tempat tinggal.
“Sedih rasanya tanpa kejelasan. Kami hanya disuruh menunggu, tapi tidak tahu sampai kapan,” katanya.
















