Kabarminang – Warga di Kecamatan Kuranji dan Pauh, Kota Padang, hingga kini masih mengalami kesulitan mendapatkan air bersih. Kondisi tersebut merupakan dampak lanjutan banjir bandang yang melanda kawasan hulu sejak akhir November 2025 lalu.
Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (Kalaksa BPBD) Kota Padang, Hendri Zulviton, menjelaskan bahwa sebagian besar sumber air masyarakat di wilayah tersebut berasal dari mata air dan sumur dangkal. Pascabanjir, debit air dari sumber-sumber tersebut mengalami penurunan drastis hingga mengering.
“Pascabanjir bandang yang melanda kawasan hulu, debit mata air dan sumur warga mengalami penurunan dan menyebabkan kekeringan yang masih berlangsung sampai saat ini,” ujar Hendri kepada Sumbarkita, Minggu (18/1/2026).
Akibat kondisi itu, kebutuhan air bersih masyarakat belum dapat terpenuhi secara normal. Sejumlah warga di berbagai titik terdampak terpaksa bergantung pada suplai air bersih dari pemerintah daerah.
Sebagai langkah penanganan darurat, BPBD Kota Padang telah memasang tandon air sejak awal masa tanggap darurat. Tandon tersebut difungsikan sebagai tempat penampungan sementara air bersih untuk memenuhi kebutuhan dasar warga.
Selain pemasangan tandon, BPBD juga menyalurkan air bersih menggunakan mobil tangki. Air tersebut disuplai dari jaringan pipa PDAM, kemudian didistribusikan ke tandon-tandon di wilayah terdampak.
Hendri menyebutkan, hingga saat ini BPBD telah memasang sekitar 80 unit tandon air di Kecamatan Kuranji dan Pauh. Untuk mendukung pendistribusian, dua unit mobil tangki air dikerahkan setiap hari guna menyuplai air bersih ke lokasi-lokasi tersebut.
“Suplai air bersih akan terus dilakukan setiap hari selama kondisi sumber mata air belum kembali normal,” tegasnya.
Krisis air bersih ini dirasakan cukup parah oleh warga, salah satunya di Kelurahan Binuang Kampuang Dalam. Warga setempat masih sepenuhnya bergantung pada bantuan air dari truk tangki, lantaran sumur-sumur mereka mengering total sejak banjir besar November 2025.
















