Kabarminang – Beredar di media sosial perkelahian antara dua siswi di Kota Pariaman. Dalam video yang viral itu keduanya memukul satu sama lain dengan tangan dan diadu oleh sejumlah siswa.
Berdasarkan informasi yang didapatkan Sumbarkita, kedua siswi itu merupakan siswi kelas 7 SMPN 7 Pariaman. Kepala Dinas Pendidikan Kota Pariaman, Hertati Taher, mengatakan bahwa perkelahian itu terjadi pada Rabu (14/1/2026).
Ia mengatakan bahwa peristiwa tersebut melibatkan total 34 siswa dengan berbagai peran, yaitu yang berkelahi, menonton, hingga merekam dan menyebarkan video.
“Hari ini kami bersama pihak sekolah, komite, Polres Pariaman, Babinsa, guru, dan orang tua telah mengidentifikasi dan membina semua siswa yang terlibat,” ujar Hertati kepada Kabarminang.com pada Minggu (18/1).
Hertati menjelaskan bahwa perkelahian itu terjadi di lapangan bola belakang sekolah setelah jam pulang. Pemicu konflik ialah kesalahpahaman terkait percakapan di Facebook, yang membuat kedua siswi merasa tersinggung dan memutuskan untuk berkelahi.
“Permasalahan ini sebenarnya sepele. Tetapi, karena terekam dan viral di media sosial, perkelahian itu menjadi perhatian publik,” ucapnya.
Meski keduanya berkelahi, kata Hertati, masalah di antara siswa itu telah diselesaikan.
“Setelah berkelahi, mereka bersalaman dan kembali berinteraksi seperti biasa pada hari-hari berikutnya. Semua siswa telah mengakui kesalahan mereka dan berjanji tidak akan mengulanginya,” tutur Hertati.
Hertati menyampaikan bahwa semua siswa yang terlibat telah menerima pembinaan dan nasehat dan menandatangani surat perjanjian yang ditandatangani orang tua masing-masing.
Selanjutnya, pihaknya akan memanggil kembali siswa dan orang tua pada Senin (19/1) untuk memastikan permasalahan ditangani tuntas. Selain itu, kata Hertati, pihaknya akan membuat video permohonan maaf yang akan diunggah di media sosial sebagai bentuk pertanggungjawaban.
Hertati menekankan bahwa kejadian itu menjadi pelajaran penting bagi sekolah, orang tua, dan siswa tentang penggunaan media sosial.
“Sebuah masalah kecil bisa membesar jika terekam dan tersebar di internet. Oleh karena itu, pembinaan dan edukasi karakter sangat penting agar siswa bisa mengendalikan emosi dan berinteraksi secara sehat,” ujarnya.
















