Kabarminang – Suasana di Simpang Tugu Tabuik, Kota Pariaman, mendadak memanas saat rombongan Tabuik Pasa dan Tabuik Subarang bertemu dalam prosesi Basalisiah, Sabtu (20/6) malam. Sorak-sorai massa mengiringi pertemuan dua kelompok yang kemudian terlibat aksi saling dorong hingga memaksa petugas keamanan turun tangan.
Petugas dari unsur kepolisian, TNI, Satpol PP, dan panitia terlihat membentuk barikade untuk memisahkan kedua kelompok. Langkah itu dilakukan untuk mencegah bentrokan semakin meluas dan menghindari kemungkinan adanya korban luka.
Prosesi Basalisiah merupakan salah satu rangkaian penting dalam tradisi Tabuik yang digelar setiap tahun di Kota Pariaman. Tradisi ini mempertemukan dua kubu utama, yakni Tabuik Pasa dan Tabuik Subarang, yang secara simbolis mewakili dua kelompok dalam kisah yang melatarbelakangi lahirnya tradisi tersebut.
Tuo Tabuik, Zulbahri, mengatakan suasana panas yang muncul saat Basalisiah bukanlah peristiwa yang berdiri sendiri, melainkan bagian dari simbolisasi sejarah yang telah diwariskan secara turun-temurun.
“Basalisiah itu menggambarkan Perang Karbala. Jadi ketika Tabuik Pasa dan Tabuik Subarang bertemu, memang ada gambaran pertentangan yang menjadi bagian dari cerita sejarah tersebut,” kata Zulbahri.
Menurutnya, prosesi itu tidak dimaksudkan untuk menciptakan permusuhan antarkelompok masyarakat. Benturan yang terjadi merupakan representasi dari konflik dalam peristiwa Karbala yang menjadi dasar lahirnya tradisi Tabuik.
“Ini simbol perjuangan dan peristiwa sejarah. Karena itu masyarakat yang menyaksikan juga harus memahami makna yang terkandung di dalamnya,” ujarnya.
Basalisiah malam ini menjadi prosesi pertama yang mempertemukan kedua kubu setelah pelaksanaan Maambiak Batang Pisang yang digelar pada sore hari. Ribuan warga dan wisatawan tampak memadati kawasan Simpang Tugu Tabuik untuk menyaksikan jalannya ritual tersebut.
Tradisi Tabuik sendiri merupakan peringatan atas gugurnya Husein bin Ali di Padang Karbala. Dalam pelaksanaannya di Pariaman, sejumlah prosesi digelar secara bertahap hingga puncak acara Hoyak Tabuik dan pembuangan Tabuik ke laut.
Bagi masyarakat Pariaman, Basalisiah bukan sekadar atraksi yang memancing adrenalin penonton. Di balik suasana tegang dan benturan yang terjadi, prosesi itu menjadi pengingat atas salah satu peristiwa paling berpengaruh dalam sejarah Islam yang kemudian hidup dan diwariskan melalui tradisi budaya Tabuik selama lebih dari satu abad.















