Untuk obat minum, dokumen tersebut mencantumkan Cefixime 200 miligram Rp150 ribu, Sanmol tiga tablet Rp90 ribu, Curcuma Forte Rp100 ribu, Miravon Rp30 ribu, Nutrahis Rp30 ribu, serta Methyl Prednisolone Rp30 ribu.
Sementara itu, komponen jasa dan tindakan medis meliputi pemasangan infus makro Rp100 ribu, kunjungan dokter klinik Rp150 ribu, kunjungan dokter ke rumah Rp450 ribu, komisi perawat Rp300 ribu, observasi Rp800 ribu, lima kali kunjungan perawat Rp500 ribu, serta bahan habis pakai Rp350 ribu.
Kholis menilai sejumlah biaya dalam rincian tersebut perlu diperiksa kewajarannya, baik dari sisi harga obat maupun jasa pelayanan medis. Ia mempertanyakan kesesuaiannya dengan harga obat dan standar tarif pelayanan kesehatan yang berlaku.
Menurut Kholis, dokter IDP menyampaikan bahwa penetapan tarif pelayanan home care tersebut telah dilakukan sesuai ketentuan ketika keluarga meminta penjelasan mengenai besaran tagihan.
Keluarga kemudian menolak membayar sesuai nominal awal dan melakukan negosiasi dengan pihak klinik. Setelah melalui pembicaraan, kedua pihak menyepakati pembayaran sebesar Rp3,5 juta.
“Meskipun disepakati turun menjadi Rp3,5 juta, jumlah tersebut masih tergolong sangat tinggi untuk tindakan medis rawat jalan satu hari,” kata Kholis kepada Sumbarkita pada Senin (19/10/2026).
Aduan Warga Lain Ikut Mencuat
Persoalan tersebut kemudian diunggah Kholis melalui akun media sosial @kholisabdurrahman dan disebarluaskan oleh akun @mula_sri. Unggahan itu memicu munculnya sejumlah aduan warga lain mengenai biaya pelayanan home care yang mereka anggap tinggi.
Kholis mengaku menerima informasi dari warga yang pernah dikenai biaya hingga Rp9 juta untuk perawatan selama tiga hari. Ia juga menyebut ada pasien yang, menurut informasi yang diterimanya, terpaksa menjaminkan telepon genggam untuk menutup biaya perawatan.


















