Ia menjelaskan, masalah utama terletak pada pelemahan fungsi tanah dan batuan di hulu sebagai “spons alam”. Perubahan tutupan lahan dari hutan menjadi kebun, ladang, jalan, dan permukiman membuat air hujan lebih cepat mengalir di permukaan tanpa tersimpan sebagai cadangan air tanah.
“Kondisi ini berdampak pada melemahnya baseflow atau aliran dasar sungai. Padahal baseflow berperan penting menjaga sungai tetap mengalir saat hujan berhenti,” ujar dia.
Selain itu, di beberapa segmen Batang Kuranji, dasar sungai yang tersusun material vulkanik berpori tinggi membuat air sungai meresap ke dalam tanah ketika muka air tanah turun. Fenomena ini dikenal sebagai losing stream, yakni sungai yang kehilangan air ke akuifer.
Data curah hujan pada 12–26 Januari 2026 juga menunjukkan hujan harian di hulu Batang Kuranji relatif rendah dengan rata-rata 7,3 milimeter per hari. Intensitas ini dinilai belum cukup untuk mengisi kembali cadangan air tanah yang telah terkuras akibat hujan ekstrem sebelumnya.
Gejala serupa juga terlihat dari melemahnya mata air kecil di kaki lereng serta mulai mengeringnya sumur warga di beberapa wilayah Kota Padang.
Prof. Dian menegaskan kondisi Batang Kuranji yang tampak “kurus” merupakan pesan ekologis dari kawasan hulu. Ia menilai solusi jangka panjang tidak berada di hilir sungai, melainkan pada upaya pemulihan fungsi DAS.
“Pemulihan tutupan vegetasi, pengendalian erosi, perlindungan zona mata air, serta penataan pemanfaatan air menjadi kunci agar sungai kembali memiliki tabungan air dan tidak ekstrem di musim hujan maupun kemarau,” kata dia.
















