Kita hidup di era ekonomi perhatian. Semua berlomba-lomba merebut atensi. Bahkan konten religius pun masuk dalam logika itu. Influencer religi bermunculan, dengan jutaan pengikut. Sebagian memang memberikan edukasi dan inspirasi yang baik. Namun, tak sedikit pula yang terjebak dalam personal branding berbasis kesalehan. Ketika agama menjadi konten, ada risiko ia diperlakukan seperti produk: dikemas, dipoles, dan dijual.
Tentu, tidak adil jika kita langsung menghakimi setiap unggahan ibadah sebagai riya. Niat adalah urusan pribadi. Bisa jadi seseorang benar-benar ingin mengajak. Bisa jadi ia ingin mendokumentasikan perjalanan spiritualnya. Tetapi refleksi tetap perlu. Apakah kita tetap melakukan ibadah itu jika tidak ada kamera? Apakah kita tetap konsisten jika tidak ada yang tahu?
Di sisi lain, kita juga perlu jujur bahwa media sosial menciptakan tekanan performatif. Ada dorongan untuk selalu terlihat aktif, produktif, bahkan religius. Dalam survei nasional tentang kesehatan mental beberapa tahun terakhir, sekitar sepertiga responden muda mengaku merasa tertekan untuk tampil “lebih baik” di media sosial dibandingkan kondisi nyata mereka. Tekanan ini tidak berhenti pada urusan karier atau gaya hidup, tetapi juga merambah wilayah spiritual.
Ramadhan seharusnya menjadi ruang sunyi antara kita dan Tuhan. Ia adalah latihan mengendalikan ego. Menahan lapar dan haus sebenarnya hanyalah simbol dari menahan dorongan diri, termasuk dorongan untuk dipuji. Ketika ibadah justru memperbesar ego, kita perlu berhenti sejenak dan bertanya: siapa sebenarnya yang sedang kita layani?
Barangkali yang kita butuhkan bukan berhenti total dari media sosial, melainkan kesadaran baru. Mengajak boleh, tapi tak perlu memamerkan detail yang terlalu personal. Berbagi semangat boleh, tapi tanpa menjadikan diri pusat panggung. Bahkan mungkin, sesekali justru lebih baik menyimpan amal rapat-rapat. Ada kenikmatan tersendiri dalam kebaikan yang hanya diketahui oleh diri sendiri dan Tuhan.
Ramadhan akan berlalu. Unggahan akan tenggelam oleh konten lain. Tapi karakter yang kita bangun akan tinggal. Jika kita terbiasa memamerkan, kita akan terus mencari panggung. Jika kita terbiasa ikhlas, kita akan tenang meski tak ada yang melihat.
Di tengah riuh notifikasi, mungkin kita perlu menciptakan ruang sepi. Mematikan kamera, menonaktifkan cerita, dan berdiri sendiri di atas sajadah tanpa saksi manusia. Sebab pada akhirnya, yang menentukan bukanlah siapa yang melihat kita beribadah, tetapi kepada siapa ibadah itu kita tujukan.
Ramadhan mengajarkan kita untuk membersihkan hati. Dan di era media sosial ini, membersihkan hati berarti juga berani melawan godaan untuk selalu terlihat. Karena bisa jadi, neraka bukan dimulai dari dosa besar yang kasatmata, tetapi dari rasa bangga yang sangat kecil, yang kita biarkan tumbuh pelan-pelan di dalam dada. Sadarlah!
* Aisyah Anggraeni, S.Pd., M.Pd. adalah mahasiswa Prodi S3/Doktor Pendidikan Dasar FIP Universitas Negeri Padang (UNP) Sumbar; alumni S1 PGSD & S2 Pendas UNP.
















